,

Holding Energi Memberi Sentimen Positif

Posted by

Jakarta, Petrominer — Rencana pembentukan holding BUMN energi mendapat respon positif di pasar modal. Harga saham PT Perusahaan Gas Negara (Tbk) atau PGN mengalami kenaikan secara signifikan.

Tren ini diakui oleh Pelaku pasar modal Yosefa Gunastuti. Dalam beberapa waktu terakhir, menurut Yosefa, harga saham PGN terus meroket.

“Rencana bahwa PGN akan berada di bawah PT Pertamina (Persero) memiliki dampak baik terhadap harga saham PGN,” kata Yosefa, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Wakil Perantara Pedagang Efek Indonesia (AWP2EI), Kamis (28/7).

Menurutnya, market selalu bergerak dari rumor, berita, atau corporate action emiten tersebut. Dan karena investor menyikapi positif pemberitaan terkait rencana pembentukan holding BUMN, maka membuat harga saham PGN naik.

Dalam konteks itu pula Yosefa menampik pemberitaan bahwa pasar modal khawatir terhadap holding. Karena faktanya, rencana itu termasuk di antara berbagai sentimen yang berpengaruh terhadap kenaikan harga saham PGN.

“Untuk itu ke depan, saya yakin pasti bagus. Jika terdapat fluktuasi harga saham lain yang lebih baik, tentu akan membuat penurunan dulu. Karena akan menakutkan jika naik terus. Tapi yang jelas, saya melihat, secara keseluruhan, rencana pembentukan holding tersebut sangat baik bagi harga saham PGN,” jelasnya.

Yosefa menambahkan, pelaku pasar termasuk investor melihat positif, karena holding akan lebih menyehatkan PGN. Dengan berada di bawah Pertamina, maka PGN akan semakin kuat dan penanaman modal juga semakin baik.

“Apalagi publik menilai bahwa PGN selama ini agak privat. Sehingga dengan adanya Pertamina, perusahaan itu juga akan menjadi semakin terbuka dan sehat,” ujarnya.

Pengelolaan gas, menurutnya, memang harus dilakukan secara profesional. Terlebih Indonesia dikenal kaya akan gas. Dan dengan menjadi holding di bawah Pertamina, tentu kemampuan kinerja PGN akan meningkat dan kemampuan mengelola gas juga akan semakin baik.

Harga saham PGN memang menunjukkan tren meningkat. Setidaknya hal itu bisa dilihat dalam dua pekan terakhir. Pada 10 Juli 2016, misalnya, harga penutupan adalah Rp 2.520 per lembar saham. Pada 26 Juli 2016, harga tersebut melonjak dan mencapai Rp 3.110 per lembar saham. Begitu pula dengan volume penjualan saham. Jika, pada 10 Juli 2016 tercatat sebanyak 92.977.500, maka pada 26 Juli 2016 sudah mencapai 111.495.300 lembar saham.

Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Indonesia Berly Martawardaya melihat bahwa tingkat kenaikan saham PGN memang sangat tinggi. Artinya, rencana pembentukan holding memang memiliki pengaruh positif terhadap kenaikan harga tersebut.

“Kenaikan yang terjadi tinggi sekali, di atas 20%. Berarti pasar memang menanggapi positif. Kalau kenaikan lima persen, bisa dibilang hal itu dipengaruhi sentimen umum,” kata Berly.

Menurutnya, tingkat kenaikan yang begitu tinggi mengindikasikan bahwa pasar memang menilai holding BUMN energi menguntungkan. Apalagi, perusahaan energi yang memang seharusnya semi monopoli atau irregulated monopoli, yaitu pengaturan dalam satu perusahaan.

Berly menambahkan, keberadaan PGN dan PT Pertagas sebagai anak usaha Pertamina, selama ini memang dipandang melemahkan. Pasalnya, masing-masing perusahaan dituntut membangun pipa sangat mahal. Jadi, kompetisi memang tidak selalu bagus.

“Dengan rencana pembentukan holding, maka bisa lebih efisien, bisa cutting cost dan bisa meningkatkan kemampuan perusahaan atau holding untuk berkompetisi,” katanya.

Dari sisi itulah, menurut Berly, investor juga melihat bahwa holding memang menguntungkan. Pasalnya, dengan menjadikan perusahaan lebih efisien, terjadi cost saving, maka profit juga akan lebih tinggi sehingga dividen juga akan lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *