Jakarta, Petrominer – Rencana pembatasan dan bahkan penghapusan bahan bakar minyak jenis Premium dan Solar pada saat ini dianggap kurang tepat. Pasalnya, BBM yang dinilai tidak ramah lingkungan itu masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang sedang terpukul akibat pandemi Covid-19.
Menurut Anggota Komisi VII DPR RI, Saadiah Uluputty, Pemerintah maupun PT Pertamina (Persero) jangan asal menghapus jenis BBM tersebut tanpa memberikan alternatif BBM yang ramah lingkungan dengan harga murah. Apalagi, jenis BBM lainnya yang disebut sebagai BBM ramah lingkungan masih tergolong mahal.
“Kebijakan penghapusan BBM jenis Premium, Pertalite, dan Solar dengan CN 48 pada saat ini tidaklah tepat. Ketiga jenis BBM ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang sedang terpukul dengan pandemi Covid-19,” ujar Saadiah , Selasa (30/6).
Sebelumnya, Pertamina dilaporkan berencana akan menghapus BBM yang tidak ramah lingkungan, antara lain BBM dengan nilai oktan rendah dan solar dengan nilai setana rendah. Jika demikian maka BBM jenis Premium (RON 88) dan Pertalite (RON 90) serta Solar dengan CN 48 tidak akan diperjualbelikan lagi di SPBU secara bertahap dalam beberapa waktu ke depan. Rencana Pertamina tersebut merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20 Tahun 2017.
Hal senada juga pernah disampaikan Pemerintah, yang beralasan bahwa penghapusan BBM tidak ramah lingkungan tersebut karena BBM dengan RON dan CN rendah hanya digunakan untuk mesin dengan compression ratio yang rendah. Kebijakan ini juga merupakan tindak lanjut dari Perarutan Presiden No. 191 Tahun 2014, yang membatasi distribusi BBM jenis Premium di Jawa, Madura, dan Bali dan sekaligus mencabut subsidinya.
Namun rencana ini tidak sepenuhnya diamini oleh Saadiah. Sebaliknya, dia menegaskan bahwa kebijakan penghapusan Premium, Pertalite, dan Solar dengan CN 48 pada saat ini tidaklah tepat. Apalagi, ketiga jenis BBM tersebut masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
“Pertamina jangan asal menghapus ketiga jenis BBM tersebut, tanpa memberikan alternatif BBM yang ramah lingkungan dengan harga yang murah. Masyarakat masih menilai bahwa harga Pertamax dan Pertamina DEX masih sangat mahal dibandingkan Premium, Pertalite dan Solar, sehingga akan sangat memberatkan apabila dipaksa untuk beralih kesana,” ujar Saadiah berargumen.
Dia pun mendesak agar Pertamina meninjau ulang rencana penghapusan BBM dengan RON dan CN rendah untuk saat ini. Alasannya, masyarakat masih menghadapi dampak pandemi Covid-19 yang memukul seluruh aspek kehidupan.
“Penghapusan tiga jenis BBM tersebut justru akan menambah beban masyarakat di tengah kondisi sulit akibat dampak pandemi Covid-19,” ungkap Saadiah.
Dia meminta agar Pertamina melakukan kajian yang mendalam dan komprehensif terhadap alasan yang diambil atas kebijakan tersebut. Kajian itu pun harus dilakukan secara detail oleh Pertamina. Tidak ujuk-ujuk, diputuskan. Termasuk menimbang dampak negatifnya di masyarakat jika penghapusan tiga jenis BBM itu dilakukan.
Tidak hanya itu, Politisi PKS ini juga meminta agar Pertamina lebih aktif menyosialisasikan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sebelum memutuskan menghilangkan Pertalite dan Premium. Jika dalam waktu tertentu Pertamina ingin ada peralihan pola konsumsi BBM masyarakat dari yang biasa menggunakan BBM berbahaya ke BBM ramah lingkungan, sebaiknya dibuat rencana kerja khusus untuk merealisasikan rencana tersebut dan disampaikan dengan cukup baik kepada masyarakat.
“Itu dilakukan agar tidak terjadi kepanikan publik yang akan mempengaruhi kondusifitas dalam negeri,” tegas Saadiah.








Tinggalkan Balasan