Jakarta, Petrominer – Pemerintah di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus berani membuat terobosan agar defisit neraca minyak Indonesia dapat diperbaiki secara bertahap. Untuk itu, perlu upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk meminimalkan rasio defisit minyak.
“Pemerintah perlu membuat terobosan yang sungguh-sungguh untuk meminimalkan rasio defisit minyak,” ujar politisi senior Partai Keadilan Sejahtera, Mulyanto, Sabtu (14/12).
Seperti diberitakan beberapa waktu lalu, PT Pertamina (Persero) menargetkan kenaikan produsi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 923 ribu barel setara minyak (Barrel Oil Equivalent Per Day/BOEPD) tahun 2020. Target ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, yang sebesar 906.000 BOEPD.
Anggota Komisi VII DPR RI ini menegaskan, target produksi yang ditetapkan Pemerintah masih jauh dari kondisi ideal. Berdasarkan data BP, jumlah produksi minyak Indonesia saat ini 1,18 juta barel per hari. Jumlah konsumsi 1,21 juta barel per hari. Artinya, terjadi defisit neraca minyak sebesar 54 ribu barel per hari.
“Jadi, target tersebut bukanlah sesuatu yang istimewa. Masalahnya, selalu saja realisasi dari target produksi itu yang tidak tercapai. Sementara targetnya sendiri terus turun dan juga tidak terealisasi,” kata Mulyanto.
Menurut laki-laki pemegang gelar Doctor of Engineering jebolan Tokyo Institute Technology (Tokodai) tersebut, Pemerintah harus segera memulai program peningkatan eksplorasi, lifting dan produksi minyak secara sistematis. Dengan begitu, kebutuhan minyak dalam negeri dapat tercukupi tanpa harus impor.








Tinggalkan Balasan