Jakarta, Petrominer — Berbagai pihak memberi apresiasi terhadap kinerja PT Pertamina (Persero) yang luar biasa. Di tengah-tengah harga minyak yang sedang menurun, BUMN ini menjadi satu di antara sedikit perusahaan migas dunia yang meraih pertumbuhan bersih.
Seperti dilaporkan sebelumnya, Pertamina meraih laba bersih US$ 1,83 miliar selama semester pertama 2016, atau naik 221% year on year (y-o-y). Kinerja ini disokong oleh peningkatan kinerja operasi dan efisiensi dari berbagai inisiatif serta langkah terobosan yang dilakukan perusahaan migas plat merah tersebut.
Menurut Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM), Deendarlianto, dengan kinerja seperti itu, Pertamina semakin berpeluang mengungguli BUMN migas dari Malaysia, yakni Petronas.
“Kita sebagai warga negara harus memberi apresiasi terhadap prestasi yang dicapai Pertamina. Dan saya optimistis bahwa Pertamina bisa mengalahkan Petronas, asal proses efisiensi terus dijalankan,” kata Deendarlianto ketika dihubungi, Minggu malam (28/8).
Dia menjelaskan, kinerja tersebut menunjukkan bahwa Pertamina telah melakukan efisiensi dengan sangat baik. Di tengah harga minyak dunia yang jatuh, BUMN itu tersebut justru berhasil melakukan penghematan yang luar biasa.
“Kalau melihat angkanya (laba pada semester pertama 2016), tentu kinerjanya membaik. Program efisiensinya berhasil dan managemen strategic-nya juga berhasil,” jelasnya.
Optimisme Deendarlianto semakin besar. Terlebih, karena dari berbagai kajian didapatkan bahwa karakteristik Pertamina sebenarnya jauh lebih “mandiri” dibandingkan Petronas. Selain langsung berada di bawah Perdana Menteri, subsidi negara juga sangat besar. Misalnya dari sisi eksplorasi, negara yang melakukan. Sedangkan Petronas tinggal menjalankan.
“Untuk itu, saya prediksi, ke depan, Petronas akan jauh berada di bawah Pertamina,” tegas Deendarlianto.
Kinerja Pertamina memang sangat baik dengan kondisi keuangan yang teramat sehat. Di tengah jatuhnya harga minyak dunia, Pertamina menjadi satu di antara sedikit perusahaan migas dunia yang meraih pertumbuhan bersih. Pada semester pertama 2016, Pertamina meraup laba US$ 1,83 miliar atau naik 221% year on year (y-o-y). Kinerja tersebut bahkan sudah melampaui Petronas, yang pada saat sama justru membukukan penurunan laba bersih 72% menjadi US$ 1,54 miliar. Selain itu, Pertamina juga menjadi satu-satunya BUMN di tanah air yang berhasil masuk jajaran elit perusahaan dunia versi Majalah Fortune tahun 2016 ini.
Dalam kesempatan terpisah, pengamat ekonomi energi UGM lainnya, Fahmi Radhy, juga memberi apresiasi kepada Pertamina. Terutama, karena BUMN itu berhasil melakukan efisiensi yang luar biasa.
“Saya memberi apresiasi. Terutama kemampuan untuk melakukan efisensi. Pertamina berhasil melakukan efisiensi secara besar-besaran, sehingga bisa mencetak profit yang cukup tinggi,” kata Fahmi.
Dalam pengamatan Fahmi, pada era kepemimpinan Dwi Soetjipto, Pertamina memang melakukan berbagai perbaikan, terutama dalam hal efisiensi tadi.
Penghematan yang cukup besar dan signifikan, jelasnya, berasal dari pengadaan BBM, terutama sejak dibubarkannya Petral. Kondisi tersebut membuat beban biaya Pertamina menjadi banyak berkurang.
“Dengan berbagai penghematan tersebut, meski seperti juga kebanyakan perusahaan minyak dunia yang terkena imbas jatuhnya harga minyak, namun Pertamina berhasil melakukan penghematan yang luar biasa,” jelas Fahmi.
Induk Holding
Sebelumnya, pengamat ekonomi energi Universitas Indonesia (UI) Berly Martawardaya mengakui angkat topi terhadap keberhasilan Pertamina. Capaian positif tersebut, menurut Berly, menunjukkan bahwa Pertamina layak menjadi induk holding BUMN sektor energi, sekaligus menjadi induk bagi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN).
“Dari segi size dan scope, sudah jelas Pertamina yang lebih cocok jadi holding, apalagi kinerjanya terus membaik,” ujar Berly.
Menurutnya, Pertamina telah menunjukkan keberhasilan untuk tidak melakukan PHK, meski harga minyak dan gas mengalami penurunan. Bahkan, Pertamina justru berhasil meningkatkan laba secara signifikan melalui efisiensi biaya, perbaikan struktur keuangan, dan menggiatkan pemasaran di dalam negeri, serta ekspor.









Tinggalkan Balasan