Jakarta, Petrominer – PT Pertamina EP Cepu (PEPC) mendapat suntikan dana baru untuk untuk membiayai Proyek Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Bojonegero, Jawa Timur. Anak usaha PT Pertamina (Persero) ini telah menyepakati pendanaan senilai US$ 1,85 miliar dari konsorsium 12 bank.
Ini merupakan salah satu kesepakatan pendanaan yang terbesar di lingkungan Anak Perusahaan Hulu Pertamina. Dalam transaksi ini, selain MUFG Bank (bank komersial di bawah kelompok usaha Mitsubishi UFJ Financial Group Inc.) yang menjadi penasihat keuangan, facility agent, dan lead arranger, terdapat sindikasi yang melibatkan 12 bank, tiga di antaranya adalah bank BUMN yakni BRI, Mandiri, dan BNI.
“Kepercayaan sindikasi 12 bank terhadap PEPC dalam pengelolaan Proyek JTB menunjukkan kredibilitas PEPC di mata lembaga keuangan internasional. Hal itu dapat menjadi contoh bagi skema pembiayaan proyek lain yang dikelola anak usaha Pertamina,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, Sabtu (3/8).
Menurut Fajriyah, kesepakatan bisnis itu memiliki struktur pembiayaan hybrid yang unik. Strukturnya menggabungkan pembiayaan konvensional dan, untuk pertama kalinya, pembiayaan syariah di bawah skema trustee borrowing (pinjaman wali amanat). Tiap bagian (tranche), konvensional maupun syariah, memberikan fasilitas pembiayaan proyek dengan dua tenor, yaitu 10 dan 15 tahun.
Sementara itu, Direktur Utama PEPC, Jamsaton Nababan, menyatakan hingga Semester I-2019, kemajuan pembangunan proyek Pengembangan Lapangan Gas Unitisasi JTB menunjukkan kinerja yang positif dari aspek konstruksi maupun pengeboran.
“Kemajuan konstruksi Gas Processing Facilities (GPF) telah melampaui target di angka 25 persen atau lebih cepat 1 persen dari target 24 persen,” ujar Jamsaton.
Proyek pengembangan JTB terdiri dari pengembangan cadangan gas terbukti serta pembangunan dan pengoperasian fasilitas pemrosesan gas dan jaringan pipa di Jawa Timur. Proyek dengan kapasitas produksi penjualan gas 192 MMSCFD dan cadangan gas 2,5 triliun kaki kubik (TCF) ini ditargetkan beroperasi pada tahun 2021 mendatang.
“Teknologi yang digunakan dalam Proyek JTB dirancang guna mendapatkan keandalan operasi dan aspek ramah lingkungan untuk berproduksi selama 25 tahun,” jelasnya.
Proyek JTB amat berperan dalam menegakkan kedaulatan energi nasional sebab gas yang dihasilkan akan dialirkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang, yang dikelola PT Pertamina Gas (Pertagas), untuk menjadi andalan dalam memenuhi permintaan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gas akan dipasok ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambak Lorok di Jawa Tengah dan PLTGU Jawa-3 di Jawa Timur.









Tinggalkan Balasan