Jakarta, Petrominer – Presiden Joko Widodo membuka Indonesian Pertroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) ke-42, Rabu (2/5). Ini merupakan kali pertama Presiden Jokowi menghadiri acara pertemuan tahunan para pelaku industri hulu minyak dan gas bumi (migas), setelah beberapa tahun sebelumnya telah dijadwalkan hadir namun batal.
Kehadiaran Presiden dalam acara pembukaan didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi, serta Presiden IPA Ronald Gunawan.
Dalam sambutannya, pada acara yang mengusung tema “Driving Indonesia’s Oil and Gas Global Competitiveness,” Presiden Jokowi menegaskan bahwa Pemerintah akan melanjutkan kebijakan deregulasi untuk mendorong investasi migas. Sejumlah peraturan yang dianggap menghambat industri migas akan dievaluasi sehingga memberikan kemudahan serta menarik minat para investor. Hal ini sekaligus memastikan eksplorasi migas terus berjalan.
“Regulasi yang ada saat ini masih kurang kondusif untuk investor, banyak prosedur yang berbelit dan membingungkan,” tegas Presiden.
Menurut Beliau, Pemerintah telah memangkas 186 regulasi. Sebanyak 14 di antaranya merupakan peraturan yang berhubungan dengan industri hulu migas. Pemerintah juga tengah mempercepat penyelesaian sistem Online Single Submission, yakni proses perizinan investasi satu pintu yang targetkan selesai akhir bulan ini.

Pernyataan Presiden Jokowi tersebut mendapat sambutan yang antusias dari para tamu undangan. Ketegasan sikap Pemerintah itu juga didukung oleh IPA. Seperti yang disampaikan oleh Presiden IPA.
Menurut Ronald, IPA menyadari bahwa berbagai perbaikan dan penyelarasan kebijakan untuk industri migas telah dilakukan oleh Pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah telah merevisi, menerbitkan aturan baru, atau bahkan memangkas aturan yang dianggap menghambat operasional.
Dia juga menegaskan bahwa upaya Pemerintah itu merupakan sinyal positif terhadap perbaikan daya saing industri migas Indonesia. Apalagi, industri migas akan tetap menjadi tulang punggung bagi energi nasional untuk 20-30 tahun ke depan.
“Dinamika industri migas dunia dalam empat tahun terakhir memang menuntut seluruh stakeholder untuk menyesuaikan diri. Pemerintah, sebagai regulator, telah merevisi bahkan menghapus sejumlah aturan. Di sisi lain, perusahaan migas juga harus meningkatkan efisiensi kegiatan produksi,” paparnya.
Berkenaan dengan tema IPA Convex tahun ini, Ronald menjelaskan bahwa tema tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi hulu migas Indonesia yang terus mengalami penurunan produksi sehingga membutuhkan investasi untuk menemukan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi dan EOR. Di sisi lain, persaingan global untuk menarik investasi migas berlangsung sangat ketat sehingga diperlukan peningkatan daya saing Indonesia secara global.
“Kami mengharapkan agar perbaikan iklim investasi migas di Indonesia ini terus dilanjutkan sehingga dapat meningkatkan jumlah serta mempercepat proyek-proyek migas untuk berpoduksi,” ujar Ronald.









Tinggalkan Balasan