(kiri ke kanan): Michael Wippler selaku President of the German Bakers Association, Maulana Wahyu Jumantara dari GAPMMI, Dieter Dohr selaku CEO dan President of GHM, Prieta Perthantri dari EKONID, dan Wolfgang Schafer, selaku Vice President of the German Bakers Confederation.

Jakarta, Petrominer – Internationale Baeckerei Ausstellung (IBA) akan kembali hadir tahun depan. Ini merupakan pameran unik internasional yang menawarkan platform terpusat dan digelar setiap tiga tahun sekali. Para pengusaha khususnya yang bergerak di bidang industri perhotelan dan pendukungnya, perlu memanfaatkan berbagai potensi yang ditawarkan oleh IBA.

Pameran ini, yang akan berlangsung 15 sampai 20 September 2018 di Munchen, Jerman, rencananya akan menampilkan berbagai produk pelengkap di bidang industri perhotelan (termasuk bakery, pastry, juga berbagai komponennya), bidang energi, ventilasi, dan teknologi pemanfaatan air conditioning, informasi teknologi, dan logistik. Ada juga pameran tentang proses otomatisasi produksi, termasu bidang riset dan pengembangan seperti layanan mandiri pembelian roti di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU).

Menurut Dieter Dohr, selaku Chief Operating Officer and President of GHM (Gesellschaft fuer Handwerksmessen mbH), selain hal-hal di atas, para pengunjung juga akan memperoleh gagasan dan informasi seimbang, bahkan peningkatan langkah dalam mengkreasi mata rantai di bidang industri terkait.

“Berbagai inovasi akan ditampilkan, sehingga para peserta dan pengunjung pameran akan memperoleh manfaat yang penting, tidak saja di bidang industri perhotelan dan berbagai fasilitas pendukungnya, melainkan juga berbagai mesin dan jasa serta laboratorium instrumen,” ujar Dieter Dohr.

Dia mengaku optimis penyelenggaraan IBA tahun depan akan dihadiri 1.309 peserta pameran dari 57 negara dan 77.814 pengunjung dari 167 negara.

Hal senada juga dikemukakan oleh Michael Wippler, selaku Presiden German Bakers Confederation. Menurutnya, kesempatan ini akan menjadi satu spektrum komplit di bidang industri pangan khususnya yang bergerak pada segmen bakeri.

Isu yang tengah mengemuka saat ini adalah trend diet gaya baru dan dampaknya terhadap industri bakeri dan roti, sebagai pangan sehat, mesin hemat energi dan ramah lingkungan, yang secara sekaligus akan memperbaiki kualitas hidup manusia, sehingga mampu berdaya saing secara lebih kompetitif.

Sementara itu, Maulana Wahyu Jumantara dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) dalam kesempatan itu mengemukakan, pameran ini mulai menjadi trend bagi pengusaha yang bergerak di bidang industri bakeri. Sebab dalam kurun waktu tiga tahun ke belakang, pengunjung dari Indonesia bisa mencapai lebih dari 200 orang.

“Itu sebabnya Gapmmi memprediksikan, ratusan pengunjung dari Indonesia juga akan mengunjungi pameran tersebut,” ujar Maulana dengan yakin.

Alasannya, data dari asosiasi menyebutkan bahwa industri roti dan kue di Indonesia selama tahun 2010 2014 tumbuh rata-rata 14 persen setiap tahunnya. Namun demikian, selama tahun 2015-2020 diperkirakan pertumbuhannya melambat, hanya mencapai 10 persen setiap tahunnya. Ini sebagai dampak dari belum pulihnya kondisi ekonomi dunia, yang juga berpengaruh terhadap sejumlah negara termasuk Indonesia.

Dia menjelaskan, saat ini sudah banyak perusahaan roti baik yang berskala besar maupun industri kecil dan rumah tangga yang memanfaatkan peluang bergerak dalam industri ini. Sehingga peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh pasar yang terbuka, demikian juga produk roti dan kue, kini sudah menjadi makanan pilihan (alternatif).

Berdasarkan struktur industrinya, pangsa terbesar justru dinikmati oleh industri kecil dan rumahan yang mencapai 65 persen; diikuti oleh industri roti dan kue yang diproduksi secara masal mencapai 20 persen; dan industri roti yang menjual produknya secara permanen dalam kemasan artificial boutique dengan 12 persen.

Melihat komposisi tersebut menurut Maulana, ada dua peluang yang menjadi tantangan dalam pameran IBA, yakni pemanfaatan teknologi lama simpan bagi produk roti dan bakeri yang selama ini maksimal hanya 5 hari menjadi masa simpan lebih lama. Demgan begitu, mampu mencapai pola distribusi yang lebih optimal.

Selain itu, ujar Maulana, perlu dipertimbangkan juga agar manajemen dan sistem produksi halal dapat mengimbangi perkembangan teknologi advance dan riset yang selama ini menjadi andalan IBA. Apalagi, saat ini pertumbuhan negara-negara Asia sudah mulai diperhitungkan dunia. Sementara konsumen produk halal sudah menuntut tersedianya jaminan produk dan label halal dalam setiap pangan yang dikonsumsinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here