Tanpa Adaptasi, Eksistensi Perusahaan Lenyap Ditelan Digitalisasi

0
159
Sheriz, salah satu brand lokal di bidang perawatan dan kecantikan yang langsung beradaptasi dengan teknologi ketika masuk ke pasar.

Jakarta,  Petrominer – Di era digital saat ini, pembentukan prilaku konsumen ditentukan oleh algoritma. Ini merupakan sistem rekomendasi yang digunakan oleh platform media sosial untuk menentukan konten apa yang akan sering muncul di linimasa.

Produk yang kerap muncul di linimasa, menandakan produk tersebut sudah beralih mengadaptasi sistem pemasaran secara daring. Dengan begitu, produk ini tidak lagi melalui penjualan langsung yang dianggap sebagai bagian penjualan secara tradisional.

Menurut pengamat bisnis dan merek, Yuswohady, pembentukan prilaku konsumen seperti itu perlu dicermati oleh para pemilik merek (jenama). Tujuan utamanya adalah menggaet ceruk segementasi pasarnya.

“Perubahan prilaku konsumen yang dibentuk oleh konsumsi medianya, menuntut para produsen dan pemegang merek untuk selalu beradaptasi, menyesuaikan konsumen dengan usia mereka dan segmentasi klasifikasi media sosialnya. Demikian juga relevansi antara keterkaitan pilihan media sosial sesuai usia generasi, menentukan kesuksesan dan daya tahan satu produk pada satu masa,” ungkap Yuswohady ketika dihubungi PETROMINER, Jum’at (28/11).e

Bentuk adaptasi teknologi ini tidak saja supaya jenama semakin dipercaya oleh konsumen, namun juga diharapkan engagement-nya akan naik. Kondisi ini pada akhirnya berdampak langsung pada peningkatan penjualan produk.

“Salah satu brand lokal bidang perawatan dan kecantikan yang langsung beradaptasi dengan teknologi ketika masuk ke pasar melalui sistem penjualan daring adalah Sheriz,” ujar Yuswohady, yang juga menjabat sebagai Managing Partner Inventure.

Brand lokal dari Jawa Timur ini milik Shelma Ayu Desearsa, mahasiswi psikologi semester tiga yang termotivasi menjadi wirausaha dan menyalurkan kecintaannya pada produk perawatan tubuh dan kecantikan.

Advokasi

Sebelum menjual produknya, Shelma mengaku telah melakukan riset produk kecantikan secara mendalam dari berbagai literatur secara online. Lantas setelah yakin dengan usahanya, dia meluncurkan produk body care (perawatan tubuh) pertamanya pada 1 Januari 2021 dan mendapat sambutan pasar yang luar biasa. Mahalan, dia berhasil meraih omzet Rp 200 juta dalam dua bulan pertama penjualan produknya.

Untuk mewujudkan misi menjadikan wanita Indonesia tampil lebih cantik dengan tetap menjadi pribadinya sendiri, Shelma tidak hanya menjual produknya semata, namun juga memberikan advokasi nilai-nilai kecantikan yang sesungguhnya.

Dia juga secara aktif membuka kesempatan bagi perempuan yang ingin berdaya secara ekonomi, dengan membentuk komunitas afiliator, yang dibangun melalui brand Sheriz. Semua usahanya bermuara pada upaya pemberdayaan perempuan Indonesia.

“Saya percaya semua perempuan tetap harus berdaya. Menjadi afiliator merupakan salah satu cara agar mereka tidak hanya bisa mendapatkan penghasilan, namun juga dapat menyebarkan nilai dan semangat positif ke orang lain. Itulah yang mendorong saya terus mengembangkan komunitas afiliator Sheriz, khususnya bagi para perempuan,” jelas Shelma.

Dalam memasarkan produknya, Shelma  menggunakan platform e-commerce. Sejak pandemi, media ini menjadi kanal pemasaran favorit brand dan penjualaan produk di Indonesia.

Tidak hanya itu, dia juga gigih mempromosikan produknya lewat media sosial, hingga kini menjadi salah satu merek body care yang cukup digemari. Tak lantas berpuas diri, Shelma terus melebarkan sayap pemasarannya dan memilih Lazada sebagai salah satu saluran utama mengembangkan brand dan bisnisnya.

Tawarkan Kemudahan

Platform e-commerce menawarkan banyak kemudahan bagi brand dan penjual yang ingin memperluas basis pelanggan dan menumbuhkan usahanya. Salah satunya adalah Lazada. Sebagai brand yang baru bergabung di kanal LazMall Lazada, Sheriz telah merasakan kemudahan yang ditawarkan.

Head of Business Growth and Operations Lazada Indonesia, Amelia Tediarjo, mengatakan Lazada berkomitmen mendorong ekosistem ekonomi digital yang inklusif. Sebagai salah satu pemain penting di industri e-commerce Indonesia, perusahaan ini terus berinovasi mendorong ekosistem ekonomi digital Indonesia.

Bagi para penjual baru, Lazada memberikan penawaran khusus, berupa pembebasan penjual dari sejumlah biaya. Mulai dari biaya komisi selama 90 hari, biaya ongkir selama 30 hari, hingga biaya partisipasi kampanye belanja untuk selamanya.

“Kami memahami biaya platform menjadi salah satu tantangan penjual untuk serius berbisnis di platform e-commerce. Karena itu, kami memberikan penawaran khusus dengan sejumlah insentif untuk mendorong para penjual segera memulai, beradaptasi, dan  meraih penjualan lebih cepat,” ujar Amelia.

Dia juga menyampaikan bahwa Lazada juga melengkapi platformnya dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu penjual mengelola bisnis secara lebih efisien dan strategis. Salah satu fitur andalannya adalah Lazada Business Advisor, yang memberikan analisis performa toko dan rekomendasi strategi berbasis data.

Fitur berbasis AI lainnya adalah Lazada Sponsored Solutions. Fitur ini yang menyediakan alat promosi dan periklanan yang memungkinkan penjual menjangkau pelanggan sesuai target pasar.

Ada pula fitur AI Smart Listings yang membantu mempercepat proses unggah produk dengan kualitas konten yang lebih baik sehingga bisa meningkatkan konversi penjualan.

Dukungan Pemerintah

Dalam upaya meningkatkan kepercayaan terhadap penggunaan produk lokal yang berdaya saing tinggi, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, beberapa waktu yang lalu menegaskan bahwa sektor kosmetik nasional memiliki potensi besar untuk terus bertumbuh. Karena, komoditi ini mampu memadukan inovasi, kreativitas, serta kearifan lokal Indonesia.

“Industri kosmetik nasional memiliki kekuatan unik karena mampu mengangkat tradisi kecantikan nusantara. Bahan alami Indonesia ini menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen dalam dan luar negeri. Inilah potensi yang harus terus kita dorong agar produk kosmetik Indonesia semakin dikenal dan dipercaya di pasar global,” ujar Menperin Agus pada acara Cosmetic Day 2025 di Jakarta.

Pemerintah juga terus mendorong peningkatan daya saing produk kosmetik nasional melalui penerapan kebijakan wajib sertifikasi halal pada tahun 2026, sebagaimana diatur dalam UU No. 33 Tahun 2014 dan PP No. 39 Tahun 2021. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar kosmetik halal global yang kini berkembang pesat, sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek keamanan dan keberlanjutan produk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here