SPBU Pertamina.

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) Bersubsidi atau bahan bakar Jenis BBM Tertentu (JBT) serta BBM Penugasan pada tahun 2020. Tentunya, penyaluran tersebut sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan Pemerintah sebanyak total 26,6 juta kilo liter (KL).

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menyatakan Jumlah tersebut terdiri dari BBM Bersubsidi jenis Solar sebesar 15,076 juta KL dan Minyak Tanah sebesar 560 ribu KL, serta BBM Penugasan jenis Premium sebanyak 11 juta KL. BBM Bersubsidi akan disalurkan kepada 5.726 lembaga penyalur eksisting, 13 lembaga penyalur yang sedang persiapan (on progress) dan 160 lembaga penyalur BBM Satu Harga.

“Pertamina bersama masyarakat bisa sama-sama mengawal BBM bersubsidi ini agar lebih tepat sasaran. Pertamina juga berkomitmen pada tahun 2020 untuk menerapkan digitalisasi SPBU, sehingga seluruh transaksi di SPBU bisa termonitor dengan akurat,” ujar Nicke, usai Penyerahan SK Penugasan dan Kuota Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) jenis bensin (gasoline) tahun 2020, Senin (30/12).

Menurutnya, integrasi digitalisasi yang diterapkan oleh Pertamina sudah dilakukan secara bertahap mulai dari Terminal BBM hingga SPBU seperti pemasangan ATG (Automated Tank Gauge) di Terminal BBM (TBBM) dan di SPBU.

ATG adalah alat untuk mengukur volume cairan di tanki penyimpanan BBM baik di TBBM dan tanki pendam di SPBU sehingga tidak perlu di ukur secara manual serta untuk mencegah human eror dan fraud. Saat ini, sudah ada 621 tanki yang menggunakan ATG di seluruh terminal BBM.

Tidak hanya ATG, digitalisasi di Terminal BBM juga sudah menerapkan program digitalisasi berupa New Gantry Sistem yaitu modernisasi sistem pengisian mobil tanki, Program MS2 atau program pemesanan order pihak SPBU ke Pertamina menggunakan SMS atau mobile application. Ada juga automation truck scheduling yaitu sistem yang digunakan untuk penugasan mobil tanki. Selain itu ada sistem ODI (online delivery info) yaitu aplikasi yang bisa di akses oleh SPBU untuk memonitor status pesanan dan posisi MT yang mengirim ke SPBU .

Digitalisasi di SPBU juga menggunakan ATG untuk dapat mengukur kapasitas volume BBM di tanki pendam. Kemudian penggunaan POS (point of sales) yaitu sistem yang terintegrasi dari mulai sistem dispencer (nozzle), stok di tangki pendam, dan untuk mendapatkan data transaksi per sales yang terhubung dengan server pusat. Setelah itu E-Payment, yaitu sarana EDC utk transaksi non tunai (MyPertamina, Link Aja). EDC juga sekaligus difungsikan sebagai ticket printer.

“Digitalisasi SPBU di Pertamina saat ini sudah mencapai 2.902 SPBU dan sebanyak 2.542 SPBU juga sudah melayani pembayaran dengan Link Aja atau MyPertamina,” jelas Nicke.

Kedepannya, Pertamina juga akan terus memperluas penerapan pembayaran non tunai melalui aplikasi MyPertamina yang telah disinergikan dengan aplikasi LinkAja. Dengan aplikasi MyPertamina, konsumen bisa lebih mudah mencari lokasi SPBU terdekat, mendapat informasi produk-produk Pertamina serta berbagai program promo.

Pertamina, lanjut Nicke, telah menyediakan layanan laporan pengaduan melalui Call Center Pertamina 135 atau akun resmi sosial media @pertamina maupun website www.pertamina.com. Masyarakat dipersilakan menyampaikan laporan jika melihat adanya penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Pertamina mengajak berbagai pihak, terutama Pemerintah Daerah, aparat kepolisian dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengawasi penyaluran distribusi BBM bersubsidi agar tidak disalahgunakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here