Direktur Operasi Risco Energy, Aditya Pratama.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan gas untuk kebutuhan dalam negeri. Selain memberi harga khusus untuk industri tertentu dan pembangkit listrik, beragam infrastruktur distribusi gas juga terus dikembangkan.

Tentunya, dalam pengembangan infratruktur gas ini, Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Sektor usaha pun diajak untuk ikut membangun infrastruktur tersebut untuk mengantisipasi lonjakan permintaan sumber energi bersih ini.

Seperti yang disampaikan Direktur Operasi Risco Energy, Aditya Pratama, dalam acara  DETalks bertajuk “Optimalisasi Penggunaan Gas Bumi Menuju Transisi Energi” yang diselenggarakan secara daring, Selasa (24/8).

Menurut Aditya, kondisi geografis dan infrastruktur Indonesia, terutama di pedalaman yang sebagian besar belum tersentuh pembangunan menjadi tantangan dalam pengembangan rantai infrastruktur pengiriman gas. Untuk mengatasi masalah ini, Risco menawarkan solusi berupa infrastruktur transportasi LNG berukuran kecil-menengah (small scale LNG).

“Optimalisasi penggunaan gas untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dapat dilakukan dengan pengembangan small scale infrastruktur LNG. Konsep ini, cocok dengan kondisi wilayah Indonesia yang terdiri dari berbagai kepulauan,” jelasnya.

Aditya pun menegaskan bahwa konsep ini tidak hanya mampu menjangkau daerah pelosok, namun juga biayanya tidak terlalu mahal. Malahan, fasilitas ini tidak bergantung pada satu sumber.

Small scale LNG itu cost effective. Perlu dilihat dan ditinjau kembali multilevel LNG trader bisa dikembangkan. Saat ini, Risco mentranfers LNG di daerah industri Jawa Barat dan Kalimantan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Aditya menyatakan komitmennya untuk mengembangkan infrastruktur LNG berska kecil menengah guna memenuhi permintaan gas di dalam negeri. Salah satu fasilitasnya di Sambera, Kalimantan Timur, telah dijadikan role model bagi penjualan LNG ritel di Indonesia. Fasilitas tersebut untuk pengiriman gas ke pembangkit listrik milik PT PLN (Persero) melalui metode mobilisasi/transportasi truk.

Fasilitas LNG berskala kecil di Sambera, Kalimantan Timur.

Konsep tersebut bisa menjadi jawaban atas tantangan yang disampaikan Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Subholding Upstream Pertamina, John H Simamora, dalam acara webinar tersebut.

Menurut John, banyak potensi gas yang dimiliki Pertamina di berbagai wilayah, terutama di wilayah Indonesia Timur, namun belum bisa dimonetisasi karena belum tersedianya infrastruktur.

“Gas memang sudah saatnya. Tetapi harus nyata dan jelas. Kita sudah banyak bicara soal ini, tetapi faktanya, tidak banyak berubah,” ungkapnya.

John menegaskan agar pemanfaatan gas bumi optimal dapat dilakukan dengan membangun kesepahaman bersama bahwa gas bumi adalah pilihan yang tepat dalam masa transisi energi. Tanpa kesepahaman bersama, nasib gas bumi akan seperti minyak.

“Kesepahaman itu kemudian diturunkan dalam kebijakan yang mendorong optimasi gas bumi, sehingga anatara suplai dan demand bisa berjalan beriringan,” katanya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here