
Kutai Kartanegara, Petrominer – Usianya sudah setengah abad. Namun, Lapangan Handil belum menunjukkan tanda-tanda menyerah pada usia.
Di tengah karakter lapangan migas yang semakin tua, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) justru melakukan peremajaan besar-besaran. Bukan sekadar memperbaiki fasilitas yang menua, tetapi memastikan aset yang telah berproduksi sejak tahun 1975 itu tetap mampu mengalirkan minyak untuk menopang kebutuhan energi nasional.
Hasilnya mulai terlihat. Setelah menyelesaikan Program Handil Rejuvenation, produksi Lapangan Handil mencapai 15.020 barel minyak per hari (BOPD) pada Mei 2026, sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan sebelum penghentian operasi terencana (planned shutdown).
Kenaikan tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan satu-satunya penentu masa depan lapangan migas. Ketika fasilitas diremajakan, teknologi dioptimalkan, dan integritas aset dijaga, lapangan mature masih memiliki ruang untuk terus berproduksi.
Program Handil Rejuvenation disiapkan sejak tahun 2023 melalui proses persetujuan dan koordinasi bersama SKK Migas serta PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Pekerjaan kemudian bergerak dari tahap detailed engineering, pengadaan material, fabrikasi, instalasi hingga tie-in ke sistem yang sudah ada.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengatakan, pekerjaan tie-in dilaksanakan pada 8–19 April 2026 bersamaan dengan perawatan fasilitas produksi Central Processing Area (CPA).
“Pekerjaan tie-in dilakukan bersamaan dengan perawatan fasilitas produksi Central Processing Area (CPA) untuk memastikan keselamatan dan integritas sistem,” ujar Setyo dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Senin (11/5).
Kesempatan menghentikan operasi secara terencana itu tidak disia-siakan. PHM sekaligus melakukan perawatan empat compressor dan delapan vessel, pekerjaan integritas fasilitas, serta inspeksi pipa penyalur menggunakan teknologi Intelligent Pigging atau Inline Inspection (ILI).
Langkah tersebut berangkat dari evaluasi terhadap kondisi fasilitas CPA yang telah beroperasi puluhan tahun. Pipa utama berukuran 20 inci dan 16 inci, misalnya, dinilai membutuhkan peningkatan kondisi agar tetap memenuhi standar keselamatan dan keandalan.
PHM kemudian mengganti pipa utama sepanjang 350 meter, melakukan retrofit pada Distributed Control System (DCS), serta memodernisasi Fire & Gas System dan sistem safety shutdown.
Peremajaan itu bukan pekerjaan ringan. Instalasi pipa, kabel, support, fabrikasi spool, pengangkatan material, pekerjaan di ketinggian hingga hot work harus dilakukan tanpa mengabaikan keselamatan dan keberlangsungan produksi.
Skala pekerjaannya tergambar dari jumlah personel yang terlibat. Hampir 1.000 pekerja dikerahkan dengan pola operasi 24 jam.
Selama pekerjaan berlangsung, PHM menerbitkan 242 izin kerja, melaksanakan 45 pekerjaan hot work naked flame, dengan total 241.176 jam kerja.
Namun, ukuran keberhasilan proyek bukan hanya terletak pada banyaknya pekerjaan yang diselesaikan. Operasi kompleks tersebut berhasil dituntaskan tanpa recordable injury dan satu hari lebih cepat dari rencana. Kehilangan produksi selama shutdown pun tercatat lebih rendah dibandingkan estimasi awal.
Bagi PHM, disiplin HSSE menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi mempertahankan aset tua. Operasi yang agresif tidak boleh mengorbankan keselamatan pekerja maupun integritas fasilitas.

Dari Shutdown ke 15.020 BOPD
Setelah seluruh rangkaian peremajaan dan perawatan selesai, Lapangan Handil kembali beroperasi.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Sunaryanto, mengatakan optimalisasi sistem proses dan compressor setelah perawatan menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan produksi lapangan migas tersebut. PHI merupakan induk usaha PHM.
“Pasca pelaksanaan program rejuvenation dan perawatan fasilitas produksi Central Processing Area (CPA), lapangan Handil kembali beroperasi dengan capaian produksi 15.020 barel minyak per hari (BOPD), atau sekitar lima persen lebih tinggi dibandingkan sebelum planned shutdown,” ujar Sunaryanto.
Angka tersebut menjadi bagian penting dari cerita Lapangan Handil. Setelah lima dekade berproduksi, lapangan ini tidak hanya dipertahankan agar tetap hidup, tetapi mampu memberikan tambahan produksi setelah fasilitasnya diremajakan.
Bagi pengelola lapangan mature, inilah pertarungan sebenarnya: bukan melawan usia, melainkan memastikan setiap aset yang masih memiliki nilai ekonomis dapat terus menghasilkan.
Model untuk Lapangan Tua
Handil bukan lapangan migas baru. Sumur pertamanya, H-1, dibor pada 15 Februari 1974, sebelum lapangan mulai berproduksi pada tahun 1975.
Sejak itu, dinamika cadangan, perubahan kondisi reservoir, perkembangan teknologi, fluktuasi harga minyak, hingga tuntutan terhadap operasi yang semakin efisien menjadi bagian dari perjalanan lapangan ini.
PHM meresponsnya dengan pendekatan yang terus berkembang. Pemanfaatan teknologi, digitalisasi operasi, peningkatan keandalan fasilitas, serta pengelolaan lapangan yang adaptif menjadi instrumen untuk mempertahankan produktivitas aset.
Program rejuvenation menjadi salah satu bentuk nyata dari pendekatan tersebut. Peremajaan fasilitas tidak hanya bertujuan mengatasi persoalan teknis hari ini, tetapi juga menciptakan fondasi agar operasi dapat berlangsung lebih andal pada tahun-tahun berikutnya.
Upaya tersebut mendapat dukungan SKK Migas. Lembaga ini menilai peremajaan sumur dan fasilitas produksi merupakan strategi penting untuk memperpanjang usia operasi lapangan mature.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Heru Setyadi, menyebut keberhasilan program tersebut terlihat dari peningkatan produksi Handil menjadi 15.020 BOPD.
“Secara keseluruhan, SKK Migas menganggap Program Handil Rejuvenation sebagai model keberhasilan pengelolaan lapangan tua untuk terus memberikan kontribusi positif bagi produksi migas nasional,” ujar Heru.
Namun, memperpanjang usia lapangan tidak hanya bergantung pada fasilitas dan teknologi. Operasi migas juga membutuhkan dukungan lingkungan sosial di sekitar wilayah kerja.
PHM menyebut hubungan dengan masyarakat lokal turut menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran operasi. Dukungan pemerintah dan masyarakat setempat menciptakan kondisi sosial yang memungkinkan kegiatan operasi berjalan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi daerah.
Setengah Abad Bukan Akhir
Lima puluh tahun adalah usia panjang bagi sebuah lapangan migas. Namun bagi Handil, angka itu justru menjadi penanda bahwa perjalanan belum selesai.
Pipa yang menua diganti. Sistem pengendalian dimodernisasi. Compressor dan vessel dirawat. Integritas fasilitas diperiksa. Semua dilakukan dengan satu tujuan: menjaga agar minyak tetap mengalir.
Dan setelah seluruh pekerjaan itu selesai, jawabannya terlihat dari angka produksi: 15.020 BOPD.
Handil mungkin telah melewati usia setengah abad. Tetapi selama teknologi terus berkembang dan aset dikelola dengan disiplin, lapangan tua tidak selalu berarti lapangan yang kehilangan masa depan. Di Handil, setengah abad justru menjadi awal dari babak berikutnya.








