Kementerian ESDM ingin memastikan proyek pembangunan LNG Tangguh Train 3 selesai tepat pada waktu yang sudah disepakati, yakni Maret 2023.

Jakarta, Petrominer – Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji, bersama Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek pembangunan Train 3 LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat. Kunjungan ini untuk memastikan proyek pembangunan Tangguh Train 3 bisa selesai tepat pada waktu seperti yang sudah disepakati sebelumnya, yakni Maret 2023 mendatang.

“Kita ingin melihat perkembangan apa yang dikerjakan di area ini, ada Tangguh Train 3 dan Tangguh Train 2. Terutama Train 3, bagaimana konstruksinya dan lain-lainnya sudah sampai berapa persen, itu yang pertama, jadi kita ingin melihat secara langsung pembangunan Train 3 secara fisik sudah seberapa jauh,” ujar Tutuka usai melakukan kunjungan kerja tersebut, Selasa (21/6).

Selain Dirjen Migas dan Kepala SKK Migas, turut serta Staf Ahli Menteri ESDM, Nanang Untung dan Triharyo Soesilo, serta Direktur Pembinaan Usaha Hulu, Ditjen Migas, Mustafid Gunawan, Tim dari Kementerian ESDM tersebut disambut oleh President BP Indonesia, Nader Zaki, dan VP Operasional, Dave Campbell.

Kunjungan kali ini juga cukup berbeda, karena turut serta Staf Presiden Milenial, Billy Mambrasar, yang hadir mewakili Menteri ESDM dalam kapasitasnya untuk melihat kemanfaatan pengembangan LNG Tangguh untuk masyarakat Papua.

Tangguh train 3 dengan kapasitas 3,8 Metrik Ton Per Tahun (mtpa) dikembangkan berdasarkan persetujuan POD II dengan nilai investasi mencapai US$ 11 miliar atau setara Rp 159 triliun. Pengembangan dimulai sejak tahun 2016 dan mengalami banyak tantangan yang utamanya diakibatkan Covid-19, sehingga menyebabkan dua kali outbreak yang menyebabkan proyek menjadi terhenti untuk dilakukan langkah-langkah sesuai protokol penangann Covid-19.

Seiring dengan mulai mereda dan tertanganinya wabah Covid-19 maka pada saat ini sudah mencapai puncak lagi dengan total Pekerja mencapai 12.900 dan diharapkan komplesi dapat selesai pada akhir tahun dan gas dapat dialirkan pada awal tahun depan.

“Kami optimis pembangunan train 3 akan selesai pada waktunya. Progress pembangunan Train 3 sudah bagus, sudah mencapai 90 persen lebih. Tetapi ada dua hal yang menjadi konsen karena itu bisa menjadi kendala saat progress tidak tercapai pada waktunya. Jadi jika ingin progres pembangunan train 3 selesai pada waktunya maka dua critical tersebut harus diselesaikan,” ungkapTutuka.

Hal senada juga disampaikan Dwi Soetjipto. Dalam kesempatan itu, dia menyoroti dua area critical yang harus diprioritaskan untuk segera diselesaikan pekerjaannya agar target dapat selesai tepat waktu. Area critical tersebut adalah area degreasing di unit agru, dan area compresor.

“Dua area tersebut menjadi prioritas untuk diselesaikan segera dengan menambah jumlah pekerja untuk mengerjakannya,” tegas Dwi.

Lebih lanjut, dia menyampaikan dampak berganda kemanfaatan proyek Tangguh Train 3 yaitu dapat menciptakan lapangan kerja yang mayoritas berasal dari masyarakat lokal. Pada saat beroperasi nanti ditargetkan lebih dari 85 persen operator berasal dari masyarakat lokal.

“Sehingga dengan selesainya proyek Tangguh Train 3, dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat lokal secara berkelanjutan sehingga dapat menciptakan perputaran perekonomian di Teluk Bintuni Papua Barat dan mendorong tumbuhnya ekonomi lokal lainnya,” ujar Dwi.

Dalam mengembangkan kemampuan sumber daya manusia masyarakat lokal, BP telah memiliki program technician apprentice. Tidak hanya untuk menyiapkan masyarakat lokal untuk bekerja pada aset BP di Indonesia, saat ini kompetensi teknisi lulusan program technician apprentice BP sudah diakui secara global dengan sudah bekerjanya beberapa teknisi pada aset global BP di Mauritania dan Senegal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here