Bandung, Petrominer – Para konsumen kini bisa membeli minyak goreng eceran dengan membawa tempat sendiri dan terjaga hygienitasnya. Sebuah mesin pengisi minyak goring otomatis baru saja diproduksi dan diluncurkan oleh PT Pindad (Persero).

Selain untuk menjaga hygienitas, mesin ini juga akan mereduksi pemakaian kantung plastik dalam penjualan minyak goring eceran. Pindad meluncurkan mesin pengisi Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O) tersebut, Sabtu (15/9).

Acara peluncuran dihadiri oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media (PISM) Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, Direktur Utama Pindad Abraham Mose, serta sejumlah produsen minyak goreng di Indonesia.

AMH-O merupakan hasil kerja sama antara Pindad dengan PT Rekayasa Engineering, anak perusahaan PT Rekayasa Industri (Rekind). Peluncuran ini merupakan tindak lanjut penandatanganan MoU bidang produksi dan penjualan pada 16 Agustus 2018 lalu.

Sinergi BUMN ini tidak saja bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan margin pedagang eceran minyak goreng, melainkan juga mendukung pemerintah menghasilkan minyak goreng secara lebih hygienis dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut Abraham Mose, Pindad memiliki Direktorat Bisnis Industrial yang mampu menghasilkan berbagai produksi alat berat seperti ekskavator, alat mesin pertanian, peralatan kapal laut, sarana prasarana kereta api, generator, motor listrik, serta produk tempa dan cor.

Selain untuk mengisi kebutuhan di dalam negeri, alat yang seluruh komponen di dalamnya telah memenuhi standard food grade, nantinya dapat juga diekspor, mengingat harganya yang cukup kompetitif antara Rp 8-9 juta per unit.

“Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah menggenjot ekspor produk manufaktur dari berbagai industri strategis dan sejumlah BUMN,” ujar Fajar Harry Sampurno.

Dalam kesempatan itu, Menteri Enggartiasto menyampaikan dukungannya terhadap produk AMH-O yang antara 60-65 persen menggunakan komponen dari dalam negeri. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ini dinilai sudah cukup tinggi.

“Saya akan mempermudah kalau alat ini akan diekspor ke negara yang masih menggunakan minyak goreng curah. Apalagi, dengan adanya mesin ini, masyarakat lebih mudah mendapatkan minyak goreng higienis, dan sehat yang harganya terjangkau. Selain itu juga, sebagai salah satu upaya mempercepat pencapaian target minyak goreng wajib kemasan tahun 2020,” jelasnya.

Produk dari Pindad ini dinilai cukup kompetitif dibandingkan produksi dari negara lain seperti India dan Pakistan, yang harganya apabila diimpor ke Indonesia sekitar Rp 15-17 juta per unit. Operasional AMH-O dikendalikan mikro komputer untuk memastikan akurasi pengukuran.

Mikro komputer yang tertanam pada AMH-O merupakan sebuah papan layar elektronik yang dilengkapi beberapa tombol yang mudah untuk dioperasikan. AMH-O juga dilengkapi dengan modul untuk memonitor lokasi unit dan volume penjualan, baik secara harian, mingguan, atau bulanan.

AMH-O merupakan implementasi Peraturan Menteri Perdagangan RI nomor 9 Tahun 2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kemasan. Sistem kerja AMH-o menyalurkan minyak goreng dalam jeriken ukuran 18 atau 25 liter sesuai dengan merek dagang produsen ke kemasan yang terdiri atas beberapa takaran mulai dari 250 ml, 500 ml, sampai 1.000 ml.

Sejak tahun 2017 Kemendag telah memberlakukan kebijakan minyak goreng wajib kemasan untuk memenuhi hak konsumen dalam menjaga mutu dan higienitas produk pangan. Kebijakan wajib kemas minyak goreng ini juga dalam rangka mendukung SNI Minyak Goreng Sawit yang akan diberlakukan wajib oleh Kementerian Perindustrian pada 31 Desember 2018.

Namun, pemberlakuan kebijakan ini telah dievaluasi kembali karena adanya permintaan dari produsen yang menyampaikan bahwa jumlah industri pengemasan minyak goreng nasional masih terbatas dan memerlukan waktu untuk menumbuhkan industri pengemas di daerah.

Untuk itu, Pemerintah memberikan kesempatan pelaku usaha, mempersiapkan sarana dan prasarana pengemasan dalam rangka kewajiban kemas tahun 2020, serta mewajibkan pelaku usaha untuk memproduksi minyak goreng dalam kemasan sederhana yang dijual dengan harga eceran tertinggi Rp 11.000 per liter agar tetap tersedia minyak goreng yang higienis dan sehat bagi masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here