
Jakarta, Petrominer – Gelaran Pertamina Eco RunFest 2025 telah usai. Tak sekedar berlari, kegiatan ini menjadi pembuktian bagi komitmen Pertamina dalam menjaga kebersihan lingkungan untuk mendukung energi bersih, serta turut mendorong ketahanan pangan bagi masyarakat prasejahtera.
Sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL), PT Pertamina (Persero) menyalurkan bantuan urban farming senilai Rp 1,5 miliar untuk masyarakat prasejahtera di 68 titik di wilayah Jakarta, meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Selain itu, disalurkan juga bantuan senilai Rp 5,5 miliar untuk mendukung 72 Program Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik di wilayah operasional Pertamina.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyampaikan bahwa bantuan urban farming dari Pertamina diharapkan dapat menjadi tulang punggung nyata untuk menyangga kebutuhan pangan secara mandiri, bagi masyarakat.
“Dengan memberikan bantuan tersebut, baik urban farming maupun bantuan pengolahan sampah, secara langsung Pertamina akan memberikan manfaat ekonomi bagi penerima manfaat,” ungkap Arya, Rabu (26/11).
Penyerahan bantuan Program Urban Farming dilakukan oleh Komisaris Independen Pertamina, Nanik S Deyang. Perwakilan dua lokasi turut hadir dalam acara Eco RunFest untuk menerima bantuan tersebut secara simbolis, yaitu RW 04, Kelurahan Pademangan Timur, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara dan RW 06, Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.
Pertamina juga mendukung 72 program pengelolaan sampah organik dan anorganik di wilayah operasi Pertamina senilai Rp 5,5 milar, yang tersebar di 34 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Program ini akan mengelola 977 ton sampah organik dan 1.097 ton sampah anorganik per tahun, dengan total 9.168 orang penerima manfaat.
Penyerahan simbolis Program TJSL Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik dilakukan oleh Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini.

Daur Ulang Sampah
Pada ajang Pertamina Eco RunFest 2025, Pertamina masih mengusung konsep keberlanjutan, termasuk menggunakan material ramah lingkungan dan pengelolaan limbah serta sampah. Seluruh sampah dan limbah acara tersebut dapat didaur ulang menjadi barang yang akan bernilai. Hal ini diharapkan berdampak positif dan memberi manfaat terhadap lingkungan maupun masyarakat.
Pertamina menggandeng Waste4Change untuk mengolah 5,79 ton sampah yang dikumpulkan dari tujuh titik pengumpulan selama pelaksanaan. Seluruh sampah tersebut diangkut dan langsung diproses pada hari yang sama di fasilitas Rumah Pemulihan Material (RPM) Vida Bekasi yang dikelola oleh Waste4Change.
Menurut Waste4Change, timbulan sampah tahun ini tercatat jauh lebih rendah dibandingkan prediksi awal 11 ton, meski jumlah partisipan meningkat. Capaian tersebut juga menunjukkan perbaikan dari tahun 2024 yang menghasilkan 6,97 ton sampah dari estimasi 9 ton.
Penurunan timbulan ini menjadi indikator keberhasilan upaya pengurangan sampah di area acara, terutama melalui penyediaan water station dan kampanye ajakan membawa tumbler yang efektif menekan penggunaan kemasan sekali pakai. Pengurangan timbulan ini juga memberikan dampak lingkungan yang positif, setara dengan menanam 72 pohon selama 10 tahun atau mengisi daya lebih dari 350 ribu smartphone.
“Kami memiliki target pemilahan selesai dalam satu hari untuk menghindari bau dan risiko polusi udara. Begitu sampah datang, tim kami langsung bekerja,” ujar Andhika, Perwakilan Operasional Rumah Pemulihan Material Bekasi, Waste4Change.
Dari hasil pemilahan 70 persen material masih bernilai manfaat, sementara 30 persen merupakan residu. Material bernilai tinggi didominasi oleh kemasan minuman PET yang mencapai sekitar 4 ton. Rata-rata kemasan minuman yang telah dibersihkan memiliki nilai jual Rp 9.000 per kilogram.
Sementara residu seperti tisu, sampah organik bercampur, dan multilayer packaging diolah menjadi biomassa yang dapat dimanfaatkan industri sebagai bahan bakar alternatif boiler.
Dalam seluruh proses, Waste4Change memastikan tidak ada limbah B3 yang tercampur. Jika ditemukan material berbahaya seperti jarum suntik, perusahaan akan memisahkannya dan mengembalikannya kepada penyelenggara untuk diproses sesuai prosedur.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan, Pertamina Eco RunFest menjadi bukti bahwa aktivitas olahraga dapat selaras dengan praktik keberlanjutan. Edukasi mengenai pengelolaan sampah perlu dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan masyarakat sehari-hari.
“Pertamina Eco RunFest dilaksanakan dengan standar pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Kami tidak hanya fokus pada pengalaman para pelari, tetapi juga memastikan setiap aktivitas memberi manfaat bagi lingkungan,” ujar Baron.
























