Karen Agustiawan saat membacakan Nota Pembelaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (29/5).

Jakarta, Petrominer – Berikut bagian 4 dari 4 dokumen pledoi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen G. Agustiawan dalam kasus kasus Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia, yang dibacakan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (29/5):

————–

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum yang terhormat,

Banyak lagi fakta-fakta persidangan, karena memang sifatnya yang terbuka dan direkam, serta diterjemahkan dan sudah didengar oleh para pegiat Hulu Migas secara nasional maupun internasional. Mereka berpendapat bahwa KASUS BMG INILAH YANG PERTAMA KALI ADA DI DUNIA, BAHWA BISNIS HULU MIGAS YANG SIFATNYA “UNCERTAINTY” DAPAT DIKRIMINALISASI SEBAGAI SEBUAH TINDAK PIDANA KORUPSI.

Jika hal tersebut dibenarkan, maka janganlah bermimpi bahwa Pertamina akan menjadi Singa Asia melampui Petronas Malaysia, apabila pemahaman Bisnis Hulu Migas saja tidak ada. Dan jangan bermimpi bahwa Pertamina akan menjadi suatu perseroan yang besar mengalahkan Temasek Singapura, apabila pemahaman terkait laporan Keuangan Konsolidasi Tahunan dan Acquit Et de Charge oleh RUPS saja tidak memiliki makna dan tidak berkekuatan hukum yang pasti. Terakhir, Indonesia jangan bermimpi bisa Mandiri Energi kalau harus selalu tergantung pada impor sebagai akibat dari tata kelola pemerintahan dalam bidang migas tidak memiliki kepastian hukum.

Yang Mulia Majelis Hakim, tanpa bermaksud menyombongkan diri, ijinkan saya menyampaikan keberhasilan saya sebagai Dirut PT Pertamina (Persero) periode 2009 – 2014 sebagai berikut (USD 1 = Rp. 10.000):

1. Pajak yang Disetor: Rp. 309,19 Triliun
2. Dividen yang Disetor: Rp. 45,02 Triliun
3. Total Pendapatan: USD 367,1M (Rp. 3671 Triliun).
4. Total Keuntungan Bersih: USD 13,2 Miliar (Rp. 132 Triliun).
5. Penambahan nilai aset
2008: USD 26,7M (Rp. 267 Triliun)
2014: US$ 50,7 (Rp. 507 Triliun).
Kenaikan Nilai Aset: Rp. 240 Trilun (dalam waktu 5 tahun)
6. Masuk Peringkat 122 & 123 dalam Fortune Global 500 Company (2012 & 2013).
7. Pencapaian Tingkat GCG: 2009 (83.56%) ; 2014 (94%)
8. Tercatat di Dunia sebagai CEO Pertama Wanita di Perusahaan Migas dan Masuk Rekor MURI.
9. Asia 50 Most powerfull Business Women Versi Forbes 2012.
(Referensi: Laporan PT Pertamina Persero 2009 -2014)

Dengan segala kerendahan hati, saya mohon yang Mulia berkenan membandingkan prestasi saya tersebut di atas dengan Dirut-dirut sebelum maupun sesudah saya. Seluruh keberhasilan di atas, tentunya telah memberikan kontribusi yang sangat positif untuk negeri dan bangsa ini, dan dapat dijadikan pertimbangan yang Mulia dalam membuat putusan untuk kasus ini. Bahwasanya tidak semua keputusan saya dapat membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan, namun secara overall atau keseluruhan dengan Business Judgement matang yang saya peroleh selama karir saya di Industri Migas, justru Pertamina menjadi lebih maju dan namanya menjadi lebih harum di dunia selama kepemimpinan saya.

Sebelum menutup pledoi ini, ingin saya sajikan salah satu illustrasi bagaimana pihak luar berkomentar terkait apa yang menimpa diri saya. Beliau adalah salah satu CEO Konsultan Migas terbesar dunia, dan berikut adalah bunyi suratnya kepada anak saya yang bungsu, Dariel:

———- Forwarded message ———
From: McCreery, John <John.McCreery@bain.com>
Date: Thu, Apr 25, 2019 at 7:50 AM
Subject: Personal
To: darielmj@gmail.com <darielmj@gmail.com>
Cc: mccreery.john@gmail.com <mccreery.john@gmail.com>

Dear Dariel,
I just wanted to send you an email to say how sorry I was to hear about your mother’s ongoing trail and detention in Indonesia. I know it must be very distressing and upsetting for her and all of your family.

Could I ask you to pass on my message of support to your mother at this difficult time? I have always and continue to hold her in the highest professional regard and it was always a privilege to meet with her. Please be reassured that I know, as many of us outside Indonesia do, that she always acted in the best interests of Pertamina and was a breath of fresh air for the organization.
With best wishes – take care.

John
John McCreery
Partner
Bain & Company, Inc. | One Houston Center, 1221 McKinney Street, Suite 3600
| Houston, TX 77010 | United States
Tel: +1 857 277 3637
Web: www.bain.com | Email: John.McCreery@Bain.com

Yang Mulia, kata-kata “breath of fresh air” atau “menghirup udara segar” malah dianggap sebagai koruptor di negaranya sendiri. Sungguh tragis,

“Saya tidak tahu apakah saya salah satu yang tidak diinginkan untuk menjadi Warga Negara Indonesia atau ada alasan lain. Mengingat pihak di luar Indonesia lebih bisa mengapresiasi saya sebagai seorang profesional.”

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum yang terhormat,
Tim Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati,

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, saya tidak pernah berkeinginan untuk menjadi Dirut PT Pertamina (Persero). Sesungguhnya, keluarga saya semuanya agak “keberatan” ketika saya mengambil jabatan ini mengingat saya satusatunya wanita dalam keluarga karena saya memiliki tiga anak laki-laki.

Saya juga teringat ketika salah satu anak saya sedih karena social media twitter di mana terdapat komentar-komentar negatif terkait saya, yakni pada saat Program Transformasi Minyak Tanah ke LPG karena pada saat itu banyak tabung LPG yang meledak akibat kurangnya penyuluhan. Tentunya yang Mulia dapat membayangkan betapa beratnya untuk anak saya yang pada saat itu masih remaja mendengar dan melihat cacian yang terkasar dilontarkan kepada ibunya dalam suatu platform atau media yang dapat diakses oleh publik.

Oleh karena kondisi di atas, tidak lama setelah saya menjabat sebagai Dirut, seluruh anak saya memilih untuk tinggal di luar negeri agar tidak ter-ekspose kepada hal-hal tersebut. Hampir selama tiga tahun terakhir saya menjabat sebagai Dirut, saya harus berpisah negara dengan anak-anak saya. Bukan hanya tidak bisa memperhatikan kehidupan kesehariannya, tetapi juga saya tidak mampu menghadiri acara wisuda mereka karena kesibukan dalam menjalankan tugas-tugas sebagai Dirut Pertamina.

“Pengorbanan tersebut saya lakukan demi kebaikan negara dengan harapan hasilnya (kelak) dapat dinikmati oleh bangsa ini.”

Pada September tahun 2014 saya memutuskan untuk berhenti karena saya menyadari bahwa anak saya yang paling kecil sudah hampir tamat SMA, dan selama ini dia harus tumbuh tanpa adanya sosok ibu yang utuh. Saya baru menyadari bahwa saya telah melalaikan pekerjaan utama saya, dan saya perlu kembali fokus pada pekerjaan utama saya yang sangat mulia tersebut.

Yang Mulia, silahkan cek publikasi-publikasi yang ada, bahwa benar adanya saya mengundurkan diri, dan bukan diberhentikan! Ini merupakan yang pertama yang pernah terjadi dalam sejarah PT Pertamina (Persero). Oleh karenanya, sangat mengusik hati saya ketika kasus BMG ini sampai naik ke persidangan, apalagi ketika saya dituduhkan melakukan tindak pidana korupsi. APABILA SAYA PERNAH MELAKUKAN KORUPSI, SAYA TIDAK AKAN MENGUNDURKAN DIRI DARI JABATAN DIRUT PERTAMINA, AGAR DAPAT MELAKUKAN LAGI DAN DAPAT TERLINDUNGI DARI APARAT PENEGAK HUKUM MENGINGAT JABATAN TERSEBUT SANGAT DEKAT DENGAN KEKUASAAN.

Tidak lama mengundurkan diri dari Pertamina untuk mengerjakan pekerjaan mulia sebagai ibu, saya kembali diusik dengan adanya berbagai jenis pemeriksaan dari Kejaksaan Agung. AKHIRNYA PADA TANGGAL 24 SEPTEMBER 2018 SAYA HARUS DIPISAHKAN LAGI DARI KELUARGA SAYA DAN MENJADI TAHANAN KEJAKSAAN AGUNG UNTUK KASUS YANG LEMAH DAN DIPAKSAKAN INI.

Majelis Hakim Yang Mulia,
Jaksa Penuntut Umum yang terhormat,
Tim Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati,

Sebagai penutup, saya yakin dan percaya di dalam hati yang Mulia tahu bahwa mengacu kepada fakta persidangan saya TIDAK BERSALAH. Saya bermohon keberanian yang Mulia untuk mengambil putusan tersebut, karena penyelidikan dan penyidikan telah dilakukan oleh para jaksa yang saya yakini tidak memahami baik secara Teknis maupun karakter Bisnis Hulu Migas. Yang Mulia, diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang memadai serta waktu yang relatif lama untuk memahami dengan benar terkait hal-hal Teknis dan Bisnis Akuisisi Hulu Migas.

Mengingat usia saya yang sudah memasuki senja, dan seluruh pengorbanan yang saya dan keluarga saya berikan untuk negara selama ini, berikanlah saya kesempatan untuk dapat kembali kepada keluarga dan menjalankan pekerjaan utama saya sebelum saya dipanggil untuk menghadap ke Allah SWT.

Oleh karena pengadilan ini adalah tempat mencari keadilan, bukan ketidakadilan apalagi penghukuman, maka dengan alasan ini pula saya mohon sudilah kiranya Majelis Hakim MENOLAK TUNTUTAN Jaksa Penuntut Umum dengan menyatakan bahwa TUNTUTAN TERSEBUT BUKAN UNTUK KEADILAN, MELAINKAN UNTUK PENGHUKUMAN, sehingga Dakwaan JPU TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan.

Berdasarkan seluruh pembahasan yang telah saya uraikan secara rinci di atas, sekali lagi saya memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Persidangan ini agar berkenan MEMBEBASKAN saya, Karen Agustiawan, dari semua tuntutan JPU.

Demikian Pembelaan dari saya. Atas perhatian dan kebijaksanaan Yang Mulia saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah, rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin Ya Rabbal Alamin…

Wassalamualaikum Warahmatullahih Wabarokatuh.

Jakarta, Rumah Tahanan Salemba Cabang Kejaksaan Agung RI,
29 Mei 2019

Hormat saya,

Karen Agustiawan

Lihat juga: Nota Pembelaan Karen Agustiawan (Bagian 1)

Lihat juga: Nota Pembelaan Karen Agustiawan (Bagian 2)

Lihat juga: Nota Pembelaan Karen Agustiawan (Bagian 3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here