Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia PLN, Syofvi F Roekman.

Jakarta, Petrominer – PLN berkomitmen untuk terus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sebagai kontribusi pada upaya mitigasi krisis iklim. Dalam usaha penyediaan tenaga listrik, PLN memasang target 23 persen bauran energi terbarukan pada tahun 2025.

Sebagai bagian dari peserta Konvensi Perubahan Iklim, Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris dan berkomitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030. Sejumlah 11 persen dari target tersebut berasal dari penurunan emisi di sektor energi. PLN ikut berperan aktif dalam upaya pencapaian target penurunan emisi Pemerintah.

“Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), PLN merencanakan 23 persen bauran energi terbarukan di tahun 2025, sehingga berkontribusi pada upaya mitigasi krisis iklim dan pemenuhan target Indonesia terhadap Perjanjian Paris,” ujar Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia PLN, Syofvi F Roekman, saat membuat talkshow online dalam peringatan Hari Bumi, Kamis (22/4).

Talkshow Hari Bumi tersebut mengusung tema Everyday is Earth Day: Sayangi Bumi, Kurangi Jejak Karbon. Diselenggarakan oleh PLN bekerja sama dengan Energy Academy Indonesia (Ecadin). Kegiatan ini juga bisa disimak di akun YouTube Ecadin.

Selain Syofvi, para pembicara lainnya adalah Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Laksmi Dewanthi, Staf Ahli Bidang Lingkungan Hidup Tata Ruang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Saleh Abdurrahman, Aktor sekaligus Produser Film, Nicholas Saputra, Outreach Director for Greenfaith, Nana Firman dan EVP K3L PLN, Komang Parmita.

Pada kesempatan itu, Laksmi menyampaikan bahwa Pemerintah mendorong pengendalian perubahan iklim dan pemanfaatan instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

“Instrumen ini sedang dipersiapkan peraturannya agar dapat memberikan koridor dan payung hukum dalam melakukan perdagangan karbon di Indonesia, termasuk memberikan opsi insentif bagi para pemangku kepentingan,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, PLN telah memulainya dengan melakukan sertifikasi penurunan emisi dari kegiatan pembangkit energi terbarukan. Beberapa pembangkit energi terbarukan PLN telah mendapatkan sertifikat penurunan emisi (carbon credit) dengan total 7,9 juta ton CO2e melalui mekanisme Verified Carbon Standard (VCS). Carbon credit yang dihasilkan pembangit energi terbarukan milik PLN dapat digunakan untuk mengkompensasi jejak karbon (carbon offset).

Terkait hal ini, Nicholas mengaku telah ikut memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi jejak karbon. Aktor yang dikenal peduli lingkungan ini mengkompensasi jejak karbon dari aktivitas di production house miliknya, Tanakhir Films, dengan membeli carbon credit sebanyak 22,2 ton CO2e yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi milik PLN.

“Dengan carbon offsetting kita bisa secara langsung berkontribusi terhadap upaya pengurangan emisi CO2 dari kegiatan yang kita lakukan sehari-hari,” ungkapnya.

Selain itu, PLN juga meluncurkan layanan produk Renewable Energy Certificate (REC) bagi pelanggan ataupun non pelanggan PLN yang ingin menggunakan energi listrik dari pembangkit energi terbarukan. REC PLN diterbitkan melalui tracking system APX inc – TIGRs Platform, sehingga memastikan terpenuhinya standar internasional, seperti RE100 best practices guidelines dan standar Carbon Disclosure Project (CDP) untuk pembelian dan pelaporan energi terbarukan.

Kepemimpinan PLN dalam pengadaan energi hijau di Asia, melalui layanan produk REC, mendapatkan apresiasi dari Renewable Energy Markets (REM) Asia Awards 2021. PLN, bersama lima perusahaan ternama dunia terpilih sebagai pemenang penghargaan REM Awards 2021.

“Dengan memanfaatkan layanan produk REC dan carbon offset PLN, setiap individu, organisasi, maupun perusahaan dapat mengkompensasi jejak karbon sekaligus berkontribusi dalam pengembangan pembangkit energi terbarukan di Indonesia,”” ujar Syofvi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here