Mojokerto, Petrominer – Warga kota dan kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kian senang. Ketergantungan mereka terhadap LPG untuk bahan bakar sudah mulai berkurang. Pasalnya, 10.101 rumah tangga di kedua wilayah tersebut akan segera menerima aliran gas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jum’at pagi (9/2), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, meresmikan 10.101 Sambungan Rumah (SR) Jaringan Distribusi Gas Bumi (Jargas) Rumah Tangga di wilayah Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto. Infrastruktur ini didanai dari Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) Tahun 2017.

Pembangunan 5.000 SR jargas di Kota Mojokerto meliputi Kecamatan Kauman (502 SR), Mentikan (607), Prajurit Kulon (1.265), Surodinawan (1.522) dan Miji (1.104). Pasokan gas berasal dari Husky CNOOC Madura Limited, dengan alokasi sebesar 0,25 MMSCFD.

Sedangkan untuk Kabupaten Mojokerto, sebanyak 5.101 SR dibangun di Desa Ngoro (1.589), Desa Sedati (1.091), Desa Kembangsari (904), Jasem (1.517). Pasokan gas berasal dari Kangean Energi Indonesia dengan alokasi sebesar 0,25 MMSCFD. Jargas ini telah mengaliri gas sejak 24 Januari 2018 lalu.

Untuk pengelolannya, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) ditugaskan untuk jargas di Kota Mojokerto. Sementara PT Pertamina (Persero) mendapatkan mandat untuk membangun jargas di Kabupaten Mojokerto.

“Jargas di Kabupaten Mojokerto dan Kota Mojokerto dibangun karena berdekatan dengan dua sumur gas yang dioperasikan CNOOC Madura Limited dan Kangean Energy Indonesia. Total pembiayaan untuk pembangunan jargas di kota dan kabupaten (Mojokerto) mencapai Rp 86 miliar,” ujar Menteri ESDM dalam peresmian yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Hadir pula pada kesempatan tersebut Direktur Utama PGN Jobi Triananda Hasjim, Direktur Gas Pertamina Yenni Andayani, Walikota Mojokerto Masud Yunus dan Wakil Bupati Kabupaten Mojokerto Pungkasiadi.

Menurut Jonan, pembangunan jargas ini adalah program yang dilaksanakan sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk pemerataan, dan memprioritaskan sumber daya yang ada untuk kemakmuran rakyat sesuai semangat ketahanan energi. Selama ini, Pemerintah berusaha agar supaya semua sumber daya alam yang dimiliki bangsa dan negara ini bisa digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Salah satu programnya adalah jargas di wilayah atau di pemukiman atau daerah di mana sambungan gas atau sumber gasnya tersedia.

Adanya jargas ini akan mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian LPG yang sebagian masih impor. Kebutuhan LPG di Indonesia mencapai 6,5 juta ton setahun, di mana 4,5 juta diantaranya masih impor. Meski produksi gas bumi sudah mencapai 1,2 juta barel setara oil per hari (BOEPD), namun jenis produksi gas yang dihasilkan bukan C3 dan C4 yang bisa dibuat menjadi LPG.

Dalam kesempatan itu, Jonan berpesan agar masyarakat turut membantu PGN dan Pertamina menjaga jaringan dan peralatan yang ada. Dengan begitu, gas bertekanan 0,02 bar yang sampai ke rumah-rumah dapat konsisten dan terjaga mengaliri warga.

Pembangunan Jargas oleh Kementerian ESDM telah dilakukan sejak tahun 2009 menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga tahun 2017, jumlah SR yang terbangun mencapai 235.925 SR di 15 Provinsi yang tersebar di 31 Kabupaten/Kota di Indonesia.

Untuk tahun 2018, Pemerintah menugaskan Pertamina dan PGN untuk membangun dan mengembangkan jargas di 16 wilayah. Penugasan ini tertuang dalam Kepmen ESDM Nomor 267 K/10/MEM/2018 dan Kepmen ESDM Nomor 268 K/10/MEM/2018, tanggal 25 Januari 2018.

Ke 16 wilayah tersebut adalah Medan (5.000 SR), Prabumulih (6.000 SR), Musi Rawas (5.167 SR), Serang (5.043 SR), Sidoarjo (7.093 SR), Pasuruan (6.314 SR), Probolinggo (5.025 SR), Bontang (5.000 SR), Balikpapan (5.000 SR), Penajam Paser Utara (4.002 SR), Tarakan (4.695 SR), Bogor (5.210 SR), Deli Serdang (5.000 SR), Lhokseumawe (2.000 SR), Cirebon (3.503 SR) dan Palembang (4.315 SR).

Di tahun 2017, selain Kabupaten Mojokerto, Pertamina juga mendapat penugasan jargas di Kabupaten Muara Enim, Kota Bontang, Kabupaten Penungkal Abab Lematang Ilir, Kota Samarinda, dan Kota Pekanbaru. Sementara PGN mendapat penugasan di Kota Mojokerto, Kabupaten Musi Banyuasin, Kota Bandar Lampung dan Rusun Kemayoran.

Jargas dibangun oleh Pemerintah di daerah yang memiliki sumber gas, infrastruktur pasok gas bumi, dan terdapat ketersediaan pengguna. Jargas juga mampu menekan subsidi dan impor BBM. Secara nasional, dengan menggunakan gas bumi, pengurangan impor LPG mencapai 25.500 ton per tahun. Penghematan subsidi Pemerintah Rp 178 miliar per tahun.

Selain itu, Masyarakat juga memperoleh keuntungan sisi finansial karena harga gas bumi lebih murah dari LPG. Setiap bulannya, penghematannya bisa mencapai sekitar Rp 50.000 per keluarga. Manfaat lainnya, gas bumi adalah bahan bakar yang ramah lingkungan dan tersedia setiap saat. Masyarakat tidak perlu keluar rumah mencari LPG atau minyak tanah dan kayu bakar, jika sewaktu-waktu kehabisan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here