London, Petrominer – Kelangkaan batubara telah mengakibatkan lonjakan biaya produksi bagi perusahaan-perusahaan manufaktur. Akibatnya, tingkat inflasi global diperkirakan meningkat dari 2,50 persen tahun 2020 menjadi 3,23 persen tahun 2021 ini.

GlobalData pun merevisi naik perkiraan tingkat inflasi global tahun 2021 menjadi 3,23 persen pada Oktober 2021. Perusahaan data dan analisa terkemuka ini menyebutkan bahwa revisi ini naik 0,22 poin persentase dibandingkan proyeksi Juni 2021.

“Seiring banyaknya negara membuka kembali ekonominya, manufaktur-manufaktur di China mengalami lonjakan permintaan barang-barang mereka. Kenaikan permintaan ini, ditambah dengan melonjaknya biaya bahan baku di tengah pengurangan produksi batubara, telah mendorong kenaikan harga barang global,” ujar Analis Riset Ekonomi GlobalData, Gargi Rao, Jum’at (5/11).

Namun, jelas Rao, komitmen China untuk mencapai netral karbon pada tahun 2060 telah menambah tekanan pada pengurangan produksi batubara. Hal ini tentunya menyebabkan ketidaksesuaian antara pasokan dan permintaan (supply-demand). Karena itulah, GlobalData merevisi turun pertumbuhan PDB China sebesar 0,57 bps dari perkiraan Juni 2021 menjadi 8,11 persen pada Oktober 2021.

“Di tengah krisis energi global, India juga menghadapi krisis listrik, saat pembangkit listrik milik negara beroperasi dengan stok batubara yang sangat rendah. Sementara banyak SPBU di Inggris kering karena logistik yang buruk. Harga gas alam juga meningkat berlipat ganda di Eropa,” ungkapnya.

Dengan perkiraan pertumbuhan China dan India yang direvisi turun, pemulihan ekonomi kawasan Asia-Pasifik (APAC) menjadi ambigu. Ekonomi global menghadapi badai yang sempurna menjelang musim dingin, kenaikan harga energi dan lonjakan harga komoditas. Dalam jangka pendek, tren seperti itu diperkirakan bisa menghalangi belanja konsumen dan berdampak pada pemulihan pasca pandemi.

“Meskipun industri Asia bergantung pada batubara, namun negara-negara besar termasuk China, India, dan Korea Selatan lebih fokus pada energi terbarukan,” ujar Rao.

Dia juga menegaskan bahwa teknologi sudah ada untuk memungkinkan dunia beralih dari batubara dan bahan bakar fosil lainnya ke energi hijau. Jerman, yang merupakan salah satu pengguna batubara terbesar di dunia, telah memasang target untuk menghentikan penggunaan batubara secara bertahap tahun 2038. Sementara delapan negara Uni Eropa lainnya juga telah berkomitmen untuk mencapai target serupa.

“Krisis batubara belakangan ini telah menyoroti bahwa negara-negara itu memiliki peluang untuk beralih ke energi hijau dan mengurangi ketergantungan mereka pada batubara,” papar Rao.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here