Sekretaris Umum Asosiasi Perusahaan Pengeboran Minyak Gas dan Panas Bumi Indonesia (APMI), Dharmizon Piliang.

Jakarta, Petrominer — Penurunan harga minyak dunia ternyata tidak hanya berdampak pada perusahaan minyak dan gas bumi (migas), namun perusahaan jasa penunjang migas juga ikut terpukul. Kebijakan mengurangi kegiatan pengeboran yang dilakukan perusahaan migas telah membuat sejumlah perusahaan penyedia jasa pengeboran gulung tikar karena sepinya proyek.

Menurut Sekretaris Umum Asosiasi Perusahaan Pengeboran Minyak Gas dan Panas Bumi Indonesia (APMI), Dharmizon Piliang, dalam dua tahun terakhir banyak perusahaan pengeboran yang terpaksa gulung tikar. Indikatornya adalah jumlah anggota APMI, yang berkurang lebih dari separuh.

“Berdasarkan data APMI, anggotanya berkurang lebih dari separuh sejak harga minyak jatuh. Pada tahun 2014, kami masih mencatat ada 480 perusahaan yang bergabung. Namun kini, hanya 219 perusahaan saja,” ujar Dharmizon usai acara buka puasa bersama di kantor APMI, Kamis (16/6).

Ini artinya, lebih dari 200 perusahaan anggota APMI terpaksa gulung tikar atau kolaps.

“Banyak perusahaan pengeboran yang tak bisa bertahan karena perusahaan migas memutuskan untuk lebih irit. Akibatnya, pekerjaan mereka berkurang. Dan banyak perusahaan yang kecil, yang sudah tidak bisa apa-apa. Karena kalau dikerjain rugi, jadi mending diam,” Jelasnya.

Perusahaan jasa yang paling terkena dampak adalah pengeboran dan work over sumur. Saat ini, proyek work over turun 30 persen dan pengeboran anjlok sampai 70 persen.

Untuk mengurangi dampak lebih jauh, Dharmizon pun mengimbau Pemerintah agar mau memberi insentif kepada perusahaan migas, baik nasional maupun multinasional. Insentif itu bisa berupa keringanan pajak atau perizinan eksplorasi yang dipermudah.

“Dengan begitu, kegiatan pemboran bisa lebih bergairah lagi. Dan pekerjaan bagi perusahaan jasa penunjang migas pun kembali banyak tersedia,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here