Para Pekerja Peramina berkomitmen untuk bekerja lebih baik untuk dapat mencapai target kinerja yang lebih baik.

Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) terus berkomitmen meningkatkan kontribusi untuk negara melalui setoran pajak dan dividen. Dalam lima tahun terakhir, kontribusi Pertamina terhadap penerimaan negara atas pajak, dividen, PNBP dan Signature Bonus meningkat rata-rata 13 persen per tahun.

“Kontribusi Pertamina Grup untuk APBN mencapai Rp 181,51 triliun, naik 12 persen dari tahun 2018 yang sebesar Rp 171,29 triliun,” ujar Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, dalam virtual media briefing, Sabtu (15/8).

Menurut Emma, nilai tersebut merupakan total kontribusi pembayaran pajak-pajak tahun 2019 dan dividen dari Pertamina Grup hasil laba tahun buku 2018 yang dibayarkan tahun 2019. Ada juga kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kegiatan hulu migas dan panasbumi serta signature bonus seiring perolehan wilayah kerja baru di anak perusahaan hulu migas Pertamina.

Kontribusi ini kian mengukuhkan tekad Pertamina untuk menjalankan peran sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan berkontribusi bagi bangsa dengan memperkuat ketahanan energi nasional, ketahanan ekonomi negara, memperkuat akses pelayanan hingga kontribusi positif yang dipersembahkan untuk negara.

“Kami terus berkomitmen meningkatkan kontribusi pada negara untuk memperkuat APBN, disamping kontribusi kepada masyarakat melalui berbagai program CSR dan Kemitraan,” ungkapnya.

Kontribusi Pertamina terhadap penerimaan negara atas pajak, dividen, PNBP dan Signature Bonus meningkat rata-rata 13 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.

Dalam kesempatan itu, Emma juga menegaskan bahwa seiring merebaknya pandemi Covid-19 secara global, Pertamina pun ikut terpukul. Tiga hal utama yang paling berdampak selama ini adalah penurunan penjualan yang signifikan, fluktuasi rupiah terhadap US dollar, dan proyeksi harga minyak mentah Dated Brent.

“Pada bulan April-Juni, rata-rata harian penjualan BBM retail turun sebesar 26,5 persen dibandingkan kondisi normal. Sementara untuk BBM Industri dan Aviasi secara overall, rata-rata penjualan April-Juni 2020 turun 24 persen dibandingkan rata-rata penjualan Januari-Pebruari 2020. Hal ini terutama dikarenakan penurunan penjualan Aviasi sebesar 84 persen,” ungkapnya.

Sementara untuk menghadapi kondisi keuangan dan tantangan tahun 2020 ini, Emma menegaskan bahwa Pertamina telah merancang berbagai inisiatif guna mengatasinya. Di antaranya adalah melakukan penghematan biaya operasi 30 persen dari RKAP atau US$ 3 miliar, peninjauan kembali (revisit) rencana investasi sampai 21 persen atau US$ 1,62 miliar, serta melakukan renegosiasi kontrak-kontrak existing.

Selain itu, Pertamina juga melakukan refinancing hutang jangka panjang untuk mendapatkan biaya bunga yang kompetitif dan sudah sudah dilakukan pada Triwulan I-2020 sebesar US$ 0,6 miliar. Tidak hanya itu, untuk proyek RDMP dan GRR, Pertamina telah menetapkan target TKDN minimal 30 persen dari nilai kontrak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here