Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin.

Jakarta, Petrominer – Terbitnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) menjadi kinerja paling baik yang dicapai oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di tahun 2020 lalu. Ditambah lagi, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) subsektor minerba yang mampu melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2020.

Menurut Dirjen Minerba, Ridwan Djamaluddin, selama perjalanan pengelolaan minerba secara nasional, landasan hukum paling penting yang dicapai. Kinerja yang paling baik adalah memiliki UU Nomor 3 Tahun 2020, yang diberlakukan sejak 10 Juni 2020.

“UU ini sebuah kemajuan, sangat penting dalam meningkatkan tata kelola pengelolaan minerba,” ujar Ridwan pada Konferensi Pers Virtual Capaian Kinerja 2020, Rencana Kerja 2021, dan Isu Strategis Subsektor Minerba, Jum’at (15/1).

Dia menyebutkan ada empat aspek penting dari UU terbaru yang mengatur subsektor minerba ini. Pertama, memperbaiki tata kelola pertambangan. Kedua, keberpihakan pada kepentingan nasional. Ketiga, berwawasan lingkungan, dan yang terakhir adalah memberi kepastian hukum dan memudahkan orang berinvestasi.

Saat ini, Pemerintah tengah dalam proses menyusun tiga Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai peraturan pelaksana UU Nomor 3 Tahun 2020, yaitu RPP tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan, RPP tentang Wilayah Pertambangan, dan RPP tentang Pembinaan dan Pengawasan serta Reklamasi dan Pascatambang dalam Penyelenggaranaan Pengelolaan Usaha Pertambangan. Selain itu, sedang disusun pula Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) tentang Pendelegasian Kewenangan Pengelolaan Minerba kepada Pemerintah Daerah Provinsi.

“Dalam waktu tidak terlalu lama, ini harus kita selesaikan,” ungkap Ridwan.

Di tengah pandemi Covid-19, Ditjen Minerba tetap dapat mencapai target PNBP yang telah ditetapkan. Pada tahun 2020, subsektor minerba menghasilkan PNBP sebesar Rp 34,6 triliun atau 110,15 persen dari rencana semula Rp 31,41 triliun.

“Pada tahun 2021, kami menargetkan peningkatan menjadi Rp 39,1 triliun,” tegasnya.

Namun sayang, investasi di subsektor minerba pada tahun 2020 mengalami penurunan dari target yang telah ditetapkan. Realisasi investasi sebesar US$ 4,015 miliar, di bawah ketetapan awal sebesar US$ 7,749 miliar. Kinerja inilah yang memaksa Ditjen Minerba untuk menetapkan target investasi subsektor minerba tahun 2021 ini senilai US$ 5,984 miliar.

“Secara umum penurunan ini disebabkan oleh pandemi Covid-19. Kesulitan operasional, mobilisasi personil, peralatan, dan kegiatan-kegiatan terkait investasi. Namun pada tahun 2021, kami menargetkan investasi mendekati US$ 6 miliar. Ini semua adalah tugas besar, tugas berat yang harus kita usung bersama, dalam rangka pemulihan ekonomi, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sudah ada,” jelas Ridwan.

Rencana dan realisasi investasi subsektor Minerba dalam periode lima tahun terakhir.

Produksi dan Pemanfaatan

Kinerja subsektor Minerba juga bisa dilihat dari realisasi produksi dan pemanfaatan komoditas minerba dalam negeri.

Tahun lalu, realisasi produksi batubara dalam negeri mencapai 561 juta ton, atau 102 persen dari target 550 juta ton. Sementara pemanfaatan batubara domestik terealisasi 85 persen dari target 155 juta ton, yaitu 132 juta ton.

Jumlah ini telah memenuhi kebutuhan batubara untuk kepentingan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO). Penurunan realisasi DMO ini diakibatkan konsumsi oleh PLN juga menurun selama pandemi Covid-19.

“Kita masih punya cukup banyak batubara, untuk itu kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk kegiatan perekonomian namun dengan tetap memperhatikan dampak lingkungan dari batubara,” jelas Ridwan.

Begitu pula dengan produksi dan pemanfaatan mineral, yang mengalami kenaikan. Produksi hasil pengolahan dan pemurnian nikel pada tahun 2020 naik signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Realisasi produksi feronikel pada 2020 adalah 1,462 juta ton; Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 860,5 ribu ton; dan nickel matte 91,7 ribu ton. Sementara realiasi produksi katoda tembaga adalah 268,6 ribu ton; emas 65,9 ton; perak 335,2 ton; dan timah sebesar 52,5 ribu ton.

Sementara realisasi pemanfaatan emas mencapai 112,7 persen atau 37,1 ton; perak 100,9 persen atau 79,4 ton; timah 290,4 persen atau 2,9 ribu ton; feronikel 337 persen atau 337 ribu ton; dan NPI 73,7 persen atau 411 ribu ton.

Pemanfaatan batubara untuk kebutuhan domestik terus meningkat dari tahun ke tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here