Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2017-2018.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan September 2018 mengalami kenaikan pesat. Setelah selama beberapa bulan bergerak naik turun, kini harga menguat hingga di atas US$ 75 per barel.

Penguatan harga ini diperkirakan bisa bertahan sepanjang bulan Oktober 2018. Harga diperkirakan terus menguat karena masih berlanjutnya ketegangan geopolitik di beberapa negara dunia. Harga diperkirakan kian terdorong naik karena semakin menurunnya produksi Iran akibat penurunan permintaan.

Meski begitu, harga bisa saja kembali melemah karena semakin meningkatnya produksi dari negara-negara OPEC dan Non OPEC, serta adanya perang perdagangan antara AS dan China berpotensi negatif pada ekonomi dan permintaan minyak global. Harga juga bisa melorot karena pengaruh penerapan kebijakan fuel efficiency di sejumlah negara yang berdampak pada penurunan permintaan minyak.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Oktober 2018 ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 74,00-78,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 76,00-80,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 76,00-80,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 69,00-73,00 per barel.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan September 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Rabu (10/10), harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 74,88 per barel, naik US$ 5,53 per barel dibandingkan bulan Agustus yang sebesar US$ 69,36 per barel. Sementara rata-rata ICP SLC naik sebesar US$ 5,36 per barel dari US$ 70,02 per barel menjadi US$ 75,38 per barel.

“Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah dipengaruhi oleh peningkatan impor minyak mentah China seabesar 500 ribu barel per hari karena adanya kenaikan impor oleh kilang swasta China,” tulis laporan SKK Migas.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

  • Dated Brent naik US$ 6,23 per barel dari US$ 72,62 per barel menjadi US$ 78,85 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 2,24 per barel dari US$ 67,85 per barel menjadi US$ 70,08 per barel.
  • Basket OPEC naik US$ 4,70 per barel dari US$ 72,26 per barel menjadi US$ 76,95 per barel.
  • Brent (ICE) naik US$ 5,27 per barel dari US$ 73,84 per barel menjadi US$ 79,11 per barel.

Penguatan harga ini dipengaruhi oleh publikasi OPEC bulan September 2018 yang melaporkan penurunan proyeksi suplai minyak dari negara-negara Non-OPEC pada kuartal-3 2018 sebesar 30 ribu bph dibandingkan publikasi bulan sebelumnya, menjadi 59,64 juta bph.

Harga juga dipengaruhi oleh publikasi International Energy Agency (IEA) bulan September 2018 yang melaporkan penurunan produksi dari negara-negara Non OPEC sebesar 340 ribu bph dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi 60,41 juta bph.

Harga kian terdorong naik karena terjadi penurunan permintaan minyak Iran menjelang penerapan sanksi dari Amerika Serikat yang menyebabkan produksi Iran bulan Agustus 2018 turun 150 ribu bph menjadi 3.63 juta bph, terendah sejak Juli 2016. Kondisi serupa juga dialami Venezuela, yang kembali mengalami penurunan produksi minyak, menjadi setengah dari produksi tahun 2016, dan diperkirakan akan mengalami penurunan produksi lebih lanjut mengingat terdapat indikasi penerapan sanksi tambahan dari AS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here