Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2016-2018.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Januari 2018 masih menunjukan kenaikan yang cukup signifikan. Tren naik sejak pertengahan tahun 2017 lalu itu mendorong harga hingga melewati US$ 65 per barel

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Januari 2017 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Jum’at (9/2), harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 65,59 per barel, naik US$ 4,64 per barel dibandingkan bulan Desember 2017 yang sebesar US$ 60,90 per barel. Penguatan serupa juga terjadi pada harga rata-rata ICP SLC yang naik sebesar US$ 4,64 per barel dari US$ 61,19 per barel menjadi US$ 65,83 per barel.

Penguatan harga minyak mentah Indonesia tersebut dan juga harga minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan minyak di Vietnam bersamaan dengan menurunnya pasokan minyak di negara tersebut. Harga juga terdorong oleh peningkatkan crude oil throughput pada refinery di Korea Selatan, Taiwan dan Cina.

“Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh peristiwa ledakan pada gasoil production unit yang memproduksi 200 ribu bpd di Taiwan,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan.

  • Dated Brent naik US$ 4,99 per barel dari US$ 64,19 per barel menjadi US$ 69,18 per barel.
  • Brent (ICE) naik US$ 4,99 per barel dari US$ 64,09 per barel menjadi US$ 69,08 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 5,72 per barel dari US$ 57,95 per barel menjadi US$ 63,67 per barel.
  • Basket OPEC naik US$ 4,82 per barel dari US$ 62,06 per barel menjadi US$ 66,88 per barel.

Kenaikan harga ini terpengaruh keputusan negara-negara OPEC untuk memperpanjang kesepakatan membatasi produksi sepanjang tahun 2018. Kesepakatan pembatasan tersebut dicapai dalam pertemuan pada akhir bulan November 2017 lalu.

Berdasarkan publikasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) bulan Januari 2018, proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2018 naik 0,06 juta bph dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya menjadi sebesar 98,51 juta bph. Sementara jumlah rig di Amerika Serikat pada bulan Januari 2018 mengalami penurunan dibandingkan Desember 2017 sebesar 7 rig, dari 931 rig menjadi 924 rig.

“Kenaikan harga dipengaruhi oleh kenaikan permintaan heating oil di Amerika Serikat akibat musim dingin,” tulis laporan SKK Migas.

Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh aksi unjuk rasa menentang Pemerintahan Iran. Aksi ini dikhawatirkan bisa mengganggu produksi dan ekspor minyak mentah dari negara tersebut. Sementara di Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika, kelompok militannya mengancam akan melancarkan serangan terhadap sektor minyak negara tersebut sehingga menimbulkan kekhawatiran terganggunya supply minyak.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2016-2018.

Sementara bulan Pebruari 2018, harga diperkirakan masih terus menguat karena masih berlanjutnya pembatasan produksi oleh negara-negara OPEC dan Non OPEC, serta meningkatnya permintaan minyak mentah global.

Namun, harga bisa saja kembali melemah karena mulai menguatnya nilai tukar Dolar AS dibandingkan mata uang dunia lainnya, dan juga meningkatnya stok gasoline di Amerika Serikat.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan Pebruari ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 63,00-68,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 67,00-71,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 67,00-71,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 61,00-65,00 per barel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here