Program electrifying agriculture ikut mendongkrak penambahan pelanggan baru PLN selama semester I-2021.

Jakarta, Petrominer – Program Electrifying Agriculture menjadi lompatan besar bagi sektor pertanian di Indonesia. Program yang digagas PT PLN (Persero) ini terbukti telah membawa sektor pertanian menjadi lebih maju dan modern dengan peningkatan produktivitas mencapai tiga kali lipat dan efisiensi biaya operasional sebesar 60 persen.

Menurut Direktur Niaga dan Manajemen PLN, Bob Saril, jumlah petani yang tercatat sebagai pelanggan berpartisipasi Electrifying Agriculture mencapai 124 ribu petani di seluruh Indonesia. Mayoritas petani telah beralih menggunakan pompa dan mesin penggilingan padi listrik, petani bawang merah mengadopsi teknologi perangkap hama berbasis lampu, petani kebun buah naga menggunakan rekayasa teknologi lampu (light trap) hingga peternak ayam yang menggunakan sistem kandang tertutup (closed house)

“Sebanyak 124 ribu petani di Indonesia telah bergabung dalam program ini dan berhasil. Produktivitas meningkat hingga 300 persen dan biaya operasional terpangkas 60 persen,” ungkap Bob Saril dalam acara bedah buku “Petani Cerdas 4.0: Go Modern, Go Electrifying” beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan, para petani beralih ke alat-alat dan mesin pertanian (alsintan) berbasis listrik, dari sebelumnya memakai alsintan berbahan bakar fosil yang mahal dan merusak lingkungan. Didukung listrik PLN, mereka berani berinovasi dan memanfaatkan teknologi guna mendongkrak produktivitas dan menekan biaya operasional sehingga kesejahteraan kian meningkat.

“PLN berpartisipasi aktif di progam ini untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan produktivitas petani. Kedua hal ini akan memudahkan petani go digital untuk menjual produknya di marketplace,” ujar Bob Saril.

Dia berharap program ini dapat mendukung pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. PLN pun siap memasok listrik yang andal ke lumbung pangan atau Food Estate yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mengapresiasi langkah PLN yang menggagas Electrifying Agriculture. Kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan PLN di program ini merupakan salah satu dari lima misi Kementerian Pertanian untuk membangun pertanian modern.

”Kerjasama kami dengan PLN adalah inovasi dan hasil kolaborasi yang sudah terbukti manfaatnya, seperti light trap perangkap hama dan irigasi listrik. Ke depannya, kami berharap PLN bisa menyediakan potensi energi yang ada di sentra pertanian, seperti energi matahari, air, dan lainnya yang bisa ditransformasikan menjadi energi listrik,” ucap Kasdi.

Sementara Ketua Duta Petani Milenial/Duta Petani Andalan Kementan, Sandi Octa Susila, menilai Electrifying Agriculture merupakan lompatan besar yang dilakukan PLN untuk mendukung sektor pertanian. Program ini berhasil meningkatkan produktivitas dan memangkas biaya operasional petani hingga 60 persen.

Pendiri UD Mitra Tani Parahyangan ini juga mengakui Electrifying Agriculture PLN telah membawa dampak positif terhadap kinerja agrobisnis yang dikelolanya itu. Sebab tanpa listrik, bisnis yang digelutinya tak mungkin berjalan.

“Program Electrifying Agriculture PLN telah membawa pertanian Indonesia semakin maju, mandiri dan modern,” tegasnya.

Seluruh manfaat dari program Electrifying Agriculture tersebut telah dirasakan banyak petani di penjuru negeri. Kisah-kisah tersebut dituangkan dalam buku “Petani Cerdas 4.0: Go Modern, Go Electrifying”.

“Dalam buku ini ada cerita keberhasilan, pengalaman dan harapan petani dalam memanfaatkan teknologi. Semoga value dan semangat para petani Indonesia dalam Electrifying Agriculture bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” ujar Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.

Manfaat ini bukanlah isapan jempol belaka. Darmawan pun mengaku sudah merasakan sendiri manfaat dari program Electrifying Agriculture.

Dia mengisahkan pengalaman ibunya di Yogyakarta yang beralih menggunakan mesin penggilingan padi berbasis energi listrik. Sebelumnya, mesin penggilingan padi diesel diandalkan oleh sang bunda. Sejak menggunakan mesin penggilingan padi listrik ini, produktivitasnya naik menjadi 5 ton per jam dari sebelumnya 7 ton per hari.

“Penghasilan ibu saya pun naik menjadi Rp 14 juta per bulan dari Rp 4,5 juta per bulan, Electrifying Agriculture ini betul-betul membantu petani,” ungkap Darmawan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here