Petugas PLN tengah memeriksa jaringan transmisi bertegangan 150 kilo volt (kV) yang terbentang dari Wotu (Sulawesi Selatan) hingga Kendari (Sulawesi Tenggara).

Jakarta, Petrominer – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan Pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi fasilitas pemurnian mineral tambang (smelter) sebanyak 4,798 gigawatt (GW). Pasalnya, kebutuhan listrik sebesar itu tidak cukup apabila hanya dipenuhi oleh PT PLN (Persero).

Sampai tahun 2023, Pemerintah mentargetkan pembangunan 52 smelter yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun, masih ada beberapa kendala dalam merealisasikan pembangunan tersebut, salah satunya adalah pasokan listrik.

“Perlu ada kerja sama baik dengan para perusahaan smelter tersebut, PLN dan juga kerja sama PLN dengan swasta lainnnya untuk bisa memenuhi kebutuhan listrik ini,” ujar Arifin dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (27/1).

Menurutnya, untuk bisa memfasilitasi kegiatan operasional 52 smelter tersebut, Pemerintah perlu mendapatkan pasokan listrik sebanyak 4,798 GW. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan total yang tersebar di seluruh Indonesia.

Perkembangan fasilitas permunian (smelter) sampai tahun 2024. (Kementerian ESDM, 2020)

Untuk itu, Pemerintah telah menyusun strategi guna memenuhi kebutuhan listrik untuk ke-52 smelter tersebut. Pertama, pemenuhan oleh PLN. Kedua, pemenuhan oleh pengembang smelter. Dan ketiga, kerja sama pengembang smelter dengan pengembang listrik swasta (non- PLN).

Hingga akhir tahun 2019, sudah ada 17 smelter yang beroperasi. Sementara hingga akhir tahun ini, ditargetkan ada empat smelter baru. Selanjutnya, setiap tahun ada smelter baru hingga mencapai 52 smelter pada tahun 2023 mendatang.

Secara rinci di Jawa ada 12 smelter dengan kebutuhan listrik sebesar 929,4 megawatt (MW). Di Sumatera ada dua smelter dengan kebutuhan listrik 50 MW. Di Kalimantan, ada 11 smelter (579,5 MW). Di Sulawesi ada 16 smelter (2.012 MW).

Satu smelter di NTT membutuhkan listrik 20 MW, satu smelter di NTB (300 MW), dan sembilan smelter di Maluku dengan kebutuhan listrik 941 MW.

Kebutuhan listrik untuk memenuhi 52 smelter di seluruh Indonesia. (Kementerian ESDM, 2020)

Sebelumnya, PLN telah menyatakan siap mendukung perkembangan industri smelter di dalam negeri dari sisi pasokan listrik. Dengan mempercayakan kebutuhan listrik kepada PLN, perusahaan smelter akan mendapatkan jaminan kehandalan energi listrik sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki. Kehandalan tersebut dapat dipasok melalui satu atau dua transmisi line, bahkan bila diperlukan terdapat pembangkit listrik di dekat lokasi smelter.

Lihat juga: PLN Siap Melistriki Industri Smelter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here