PLTP RantauDedap Tahap-1 dengan kapasitas 91,2 MW.

Jakarta, Petrominer – Di tengah pandemi Covid-19 dan ancaman krisis batubara untuk listrik, Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Rantau Dedap Tahap-1 dengan kapasitas 91,2 megawatt (MW) mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD). PLTP yang dikembangkan dan dioperasikan oleh PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) ini berlokasi di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatra Selatan.

Supreme Energy Rantau Dedap adalah perusahaan kerja sama antara Supreme Energy, ENGIE, Marubeni Corporation dan Tohoku Electric Power. Proyek Rantau Dedap ini dimulai sejak tahun 2008 lalu dan pembangunan PLTP dimulai tahun 2018.

“Sejak 26 Desember 2021, PLTP Rantau Dedap Tahap-1 dengan kapasitas 91,2 MW telah beroperasi komersial. Listrik yang bersumber dari energi hijau bebas karbon emisi ini disalurkan melalui jaringan transmisi milik PT PLN (Persero) untuk dapat mendukung kehandalan pasokan listrik di Wilayah Sumatera,” ungkap Pendiri dan Chairman Supreme Energy, Supramu Santosa, dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Jum’at (7/1).

Supramu menegaskan, beroperasinya PLTP Rantau Dedap ini menunjukan komitmen yang sangat kuat dari Supreme Energy dan semua mitra bisnis terhadap pengembangan energi panasbumi di Indonesia. Pelaksanaan proyek panasbumi juga dalam rangka mendukung tujuan Pemerintah Indonesia untuk mencapai transisi energi.

“Proyek Rantau Dedap adalah proyek panasbumi yang sangat menantang dengan lokasi yang terpencil, medan yang terjal, elevasi tinggi (2.600 mdpl) dan konstruksi yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19,” tegasnya.

Supramu menjelaskan, pengembangan panasbumi Rantau Dedap ini dimulai sekitar 13 tahun lalu. Supreme Energy memulai studi pendahuluan proyek Rantau Dedap di tahun 2008, menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) selama 30 tahun dengan PLN di tahun 2012 dan langsung memulai kegiatan eksplorasi hingga tahun 2015. Setelah menyelesaikan proses amandemen PJBL di akhir 2017 dan mencapai financial close di tahun 2018, kegiatan konstruksi dan pengeboran sumur pengembangan pun dimulai.

“SERD menunjuk Konsorsium PT Rekayasa Industri dan Fuji Electric sebagai kontraktor EPC. Total investasi untuk pengembangan PLTP Rantau Dedap Tahap-1 adalah lebih dari US$ 700 juta,” jelasnya.

Saat ini, Supreme Energy juga mengoperasikan PLTP Muara Laboh Unit-1 sebesar 86 MW yang dikelola oleh PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML) di Solok Selatan, Sumatera Barat dan sudah beroperasi sejak Desember 2019. Dua proyek selanjutnya adalah pengembangan PLTP Muara Laboh Unit-2 80 MW, dan eksplorasi PLTP Rajabasa 2 x 110 MW di Lampung Selatan, Lampung yang dikelola oleh PT Supreme Energy Rajabasa (SERB) dan sekarang sedang menunggu penyelesaian Amandemen PJBL dengan PLN.

SEML adalah perusahaan kerjasama antara Supreme Energy, ENGIE dan Sumitomo Corporation. INPEX Corporation bergabung sejak akhir tahun 2021. Sementara SERB adalah perusahaan kerjasama antara Supreme Energy, ENGIE dan Sumitomo Corporation.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here