, ,

Pasar Kendaraan Listrik di Tambang Tembus US$27 Miliar

Posted by

–

Cambridge, Petrominer – Kendaraan listrik di sektor pertambangan global diproyeksikan senilai lebih dari US$27 miliar pada tahun 2047. Proyeksi ini seiring meningkatnya tekanan dekarbonisasi dan efisiensi biaya di industri pertambangan.

Laporan IDTechEx bertitel “Electric Vehicles in Mining 2027-2047: Technologies, Players, Forecasts” menyebutkan bahwa elektrifikasi mesin di pertambangan terus berkembang dalam lima tahun terakhir. Produsen mesin, perusahaan tambang, dan pemerintah semakin mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk menggantikan mesin berbahan bakar diesel.

Dorongan elektrifikasi tidak hanya berasal dari target lingkungan, tetapi juga manfaat operasional dan finansial. Industri pertambangan menyumbang sekitar 2–3% emisi gas rumah kaca global, dengan lebih dari separuhnya berasal dari emisi langsung mesin tambang diesel.

Dari sisi biaya, listrik yang lebih murah menjadi salah satu pendorong utama. Meski harga awal kendaraan listrik lebih tinggi, penghematan energi dinilai mampu menutup selisih tersebut dan membuat kendaraan listrik lebih ekonomis berdasarkan total biaya kepemilikan (total cost of ownership/TCO), ditambah potensi penghematan biaya perawatan dan efisiensi drivetrain.

Namun, elektrifikasi masih menghadapi kendala teknis. Tingginya intensitas penggunaan mesin tambang membuat kapasitas baterai dan sistem pengisian menjadi tantangan utama.

Sebagian besar mesin listrik saat ini mampu beroperasi sekitar enam jam sebelum pengisian ulang. Untuk menyamai pola operasi mesin diesel yang dapat berlangsung hampir tanpa henti, industri membutuhkan baterai berkapasitas lebih besar, teknologi dengan kepadatan energi lebih tinggi, serta sistem pengisian yang lebih cepat guna menekan waktu berhenti.

Infrastruktur kelistrikan juga menjadi persoalan, terutama bagi tambang di lokasi terpencil dengan akses jaringan listrik yang terbatas atau tidak stabil. Adopsi kendaraan listrik secara luas akan meningkatkan kebutuhan listrik dan mendorong peningkatan infrastruktur di lokasi tambang, termasuk penggunaan battery energy storage system (BESS) dan mikrogrid.

Dari sisi regulasi, dukungan pemerintah terhadap elektrifikasi mesin tambang masih terbatas. Kanada menjadi satu-satunya negara yang sejauh ini memiliki kebijakan yang secara khusus mendorong elektrifikasi mesin tambang, sementara China, India, dan Australia memiliki kebijakan mobilitas yang lebih luas.

Amerika Serikat, meski memiliki industri pertambangan besar, belum memiliki kerangka regulasi khusus untuk mendorong adopsi kendaraan listrik di sektor tersebut.

Perkembangan teknologi baterai juga akan menentukan laju pertumbuhan pasar. Baterai berskala megawatt-jam (MWh) diperkirakan semakin umum digunakan pada truk tambang listrik berukuran besar untuk memperpanjang waktu operasi dan meningkatkan produktivitas.

Pada saat yang sama, penurunan harga baterai lithium-ion berpotensi memangkas premi harga kendaraan listrik. Kondisi tersebut diperkirakan semakin memperkuat daya tarik elektrifikasi bagi industri pertambangan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *