
Jakarta, Petrominer — Indonesia perlu memperkuat jaringan transmisi untuk mengantisipasi gangguan sistem kelistrikan sekaligus mendukung percepatan pengembangan energi terbarukan. Pelajaran dari pemadaman listrik total (blackout) di Semenanjung Iberia, yang mencakup Spanyol dan Portugal, menunjukkan bahwa kesiapan jaringan menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan sistem.
Dalam laporan terbarunya, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menyebutkan bahwa dugaan blackout Iberia disebabkan tingginya porsi energi terbarukan tidak didukung temuan European Network of Transmission System Operators for Electricity (ENTSO-E). Gangguan justru berkaitan dengan fluktuasi tegangan signifikan pada sejumlah gardu induk utama yang tidak ditangani secara cepat.
IEEFA menilai kasus tersebut relevan bagi Indonesia yang tengah menghadapi tantangan keandalan pasokan listrik di Jawa dan Sumatra sekaligus mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pengalaman Iberia menunjukkan integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan tidak serta-merta meningkatkan risiko gangguan apabila didukung perencanaan dan penguatan sistem transmisi yang memadai.
“Ketika blackout terjadi porsi PLTS di Spanyol mencapai 20-30%, sementara kapasitas terpasang energi surya di Indonesia baru 1% dari total pembangkitan di Jawa-Bali. Artinya, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk membangun jaringan listrik yang selaras dengan pengembangan energi terbarukan secara terencana, bukan sebagai respon terhadap krisis,” kata Analis Sektor Energi IEEFA Eropa, Jonathan Bruegel, Senin (5/10).
Karena itu, IEEFA menilai kebutuhan investasi jaringan listrik perlu menjadi perhatian. Dalam RUPTL 2025–2034, PLN mengalokasikan sekitar US$24 miliar untuk perluasan dan peningkatan jaringan transmisi selama satu dekade, atau rata-rata US$2,4 miliar per tahun.
Namun, realisasi investasi transmisi PLN sejak 2019 rata-rata hanya sekitar US$1,4 miliar per tahun. Kesenjangan tersebut menunjukkan kebutuhan pembiayaan yang lebih besar untuk mengejar target pengembangan jaringan dalam RUPTL.
IEEFA merekomendasikan PLN mengintegrasikan pengembangan energi terbarukan dan penyimpanan energi (energy storage) sejak awal dalam desain investasi transmisi. Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat jaringan lebih siap menghadapi perubahan pola pembangkitan sekaligus menjaga stabilitas sistem.
Bruegel juga mendorong PLN memperkuat pengelolaan dari sisi permintaan dan meninjau kembali kebutuhan cadangan frekuensi. Perhitungan tersebut perlu mengacu pada bauran pembangkitan listrik masa depan yang semakin banyak memasukkan energi terbarukan, bukan hanya kondisi saat ini yang masih didominasi batu bara.
“Aturan jaringan perlu ditinjau secara berkala, bukan hanya diperbarui saat terjadi insiden yang memaksa adanya perubahan,” tegasnya.








Tinggalkan Balasan