
Jakarta, Petrominer – Keberhasilan dalam operasi pengeboran sumur High Pressure High Temperature (HPHT) dan deepwater tidak hanya diukur dari kecepatan atau kemampuan mencapai target kedalaman. Keberhasilan diukur dari kemampuan menghadirkan operasi yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan sambil melindungi pekerja, lingkungan, dan aset perusahaan.
Demikian diungkapkan Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita, dalam Workshop HPHT and Deepwater Wells: Drilling Challenges, Technologies, and Applications yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) di Jakarta, Selasa (23/6). Forum ini dihadiri oleh peserta dari berbagai negara di Asia hingga Eropa.
Dalam makalahnya bertajuk “Leading Safety and Performance in High-Risk Drilling Environments,” Avep menyampaikan bahwa industri migas saat ini menghadapi perubahan besar. Pasalnya, sumber daya migas yang mudah dieksploitasi semakin berkurang, sementara kebutuhan energi global terus meningkat.
Permintaan energi global diproyeksikan meningkat sekitar 15 persen hingga tahun 2035. Di sisi lain, lebih dari 70 persen sumber daya migas baru yang ditemukan pada tahun 2025 berasal dari wilayah deepwater dan ultra-deepwater.
“Bahkan, sekitar dua pertiga sumur eksplorasi berdampak tinggi yang direncanakan pada tahun 2026 berada di area laut dalam,” paparnya.
Menurut Avep, tren tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pengeboran di lingkungan yang semakin kompleks akan menjadi pembeda utama bagi perusahaan jasa pengeboran di masa depan. Karena itulah, keselamatan kerja dan keunggulan operasional menjadi faktor utama dalam menghadapi tantangan pengeboran migas berisiko tinggi, khususnya pada sumur HPHT dan deepwater.
Dia pun menegaskan bahwa keberhasilan dalam operasi HPHT dan deepwater tidak hanya diukur dari kecepatan pengeboran atau kemampuan mencapai target kedalaman sumur. Keberhasilan tersebut justru diukur dari kemampuan menghadirkan operasi yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan sambil melindungi pekerja, lingkungan, dan aset perusahaan.
Tidak Bisa Didelegasikan
Lebih lanjut, Avep menekankan bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur atau kewajiban kepatuhan, melainkan perilaku kepemimpinan yang harus hadir di seluruh level organisasi. Budaya keselamatan yang kuat akan membentuk disiplin operasional, kualitas pengambilan keputusan, kesadaran risiko, serta budaya organisasi yang sehat.
“Safety is a leadership behavior. Keselamatan harus dimulai dari kepemimpinan dan tidak bisa didelegasikan,” tegasnya.
Avep juga mendorong terciptanya budaya kerja yang memberi ruang bagi setiap pekerja untuk menyampaikan kekhawatiran, menantang asumsi yang berisiko, hingga menghentikan pekerjaan ketika kondisi tidak aman.
Risiko Tinggi
Dalam paparannya, dia juga menyoroti sejumlah temuan cadangan migas strategis di Indonesia yang berada pada kategori HPHT maupun deepwater, seperti Tangkulo, Kutai Basin, dan Masela. Tentunya, pengembangan lapangan-lapangan ini membutuhkan investasi besar sekaligus pengalaman teknis yang mumpuni.
Menurut Avep, operasi pengeboran sumur HPHT dan deepwater menghadirkan kompleksitas teknis maupun bisnis yang jauh lebih tinggi dibandingkan pengeboran konvensional. Kapabilitas pengeboran kini menjadi strategic differentiator bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif
Dari sisi teknis, sumur HPHT dapat menghadapi tekanan hingga 20.000 psi dengan temperatur lebih dari 177 derajat Celsius, margin pengeboran yang sempit, tantangan pengendalian sumur, hingga desain sumur yang kompleks.
Sementara dari sisi bisnis, proyek deepwater membutuhkan biaya investasi dan operasional hingga tiga kali lebih besar dibandingkan proyek perairan dangkal. Selain itu, biaya non productive time (NPT) dapat mencapai US$ 1,5 juta per hari.
“Dalam proyek seperti ini, satu kesalahan operasional dapat menghapus nilai proyek yang dibangun selama bertahun-tahun,” ungkap Avep.









Tinggalkan Balasan