, ,

Jacket dan Topside Platform Offshore Manpatu Telah Terpasang

Posted by

Balikpapan, Petrominer — PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali mencatatkan pencapaian penting dalam Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu. Jacket dan topside Platform Offshore Manpatu telah berhasil dipasang pada 27 Mei 2026 lalu.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menjelaskan Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu merupakan wujud komitmen PHM untuk terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Investasi ini digelontorkan demi keberlanjutan produksi migas yang penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia.

“Di PHM, kami berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber daya baru, menambah cadangan, dan menjaga keberlanjutan produksi minyak bumi dan gas alam (migas) dari wilayah Kalimantan untuk puluhan tahun mendatang,” ujar Edi, Selasa (2/6).

Proyek ini, menurutnya, mendapat dukungan penuh dari PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) selaku induk perusahaan dan SKK Migas.

Kinerja HSSE

Proyek Manpatu merupakan pengembangan temuan sumur eksplorasi di kawasan lepas pantai South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan. Kalimantan Timur. Penyelesaian pemasangan platform ini merupakan kelanjutan dari sejumlah tahapan proyek yang telah berlangsung sejak April 2026 lalu.

Diawali dengan sail away jacket pada 8 April 2026, dilanjutkan load out dan sail away topside dari fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 17 April 2026. Dan terakhir, sail away topside final pada 30 April 2026.

Selanjutnya, PHM akan segera melanjutkan tahapan-tahapan berikutnya, meliputi pemasangan riser dan subsea spool, hook-up, hingga commissioning guna memastikan platform dapat beroperasi secara optimal pada Kuartal I tahun 2027. Keberhasilan proyek ini semakin menegaskan peran strategis PHM dalam mendukung target produksi migas nasional dan mewujudkan ketahanan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia.

Platform Offshore Manpatu dirancang untuk mendukung kegiatan produksi dan pengembangan lapangan di Wilayah Kerja (WK) Mahakam. Setelah beroperasi, proyek ini diproyeksikan mampu menambah produksi gas hingga 80 juta kaki kubik per hari (MMSCFS) atau sekitar 20 persen dari total produksi WK Mahakam di tahun 2027 nanti.

Pada proyek ini, PHM menerapkan pengawasan ketat, manajemen risiko yang terstruktur, serta budaya keselamatan kerja yang disiplin di seluruh tahapan pekerjaan sehingga Proyek dapat diselesaikan dengan kinerja HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang baik.

“Sepanjang pelaksanaan proyek, aspek keselamatan menjadi prioritas utama,” tegas Edi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *