, , ,

Konflik Timur Tengah, Perjanjian Dagang Indonesia-AS Ancam Ketahanan Energi

Posted by

Jakarta, Petrominer – Perjanjian perdagangan resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia-Amerika Serikat (AS) yang mencakup impor migas senilai US$ 15 miliar menjadi ancaman bagi ketahanan energi dan ekonomi nasional. Ancaman tersebut semakin tinggi di saat harga minyak terdongkrak naik di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi dunia.

Di bawah kewajiban ART, Indonesia akan mengganti sumber impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, yakni LPG senilai US$ 3,5 miliar, minyak mentah US$ 4,5 miliar, dan bensin olahan US$ 7 miliar. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, impor migas Indonesia mencapai US$ 32,8 miliar, dengan AS menyumbang sekitar US$ 3 miliar.

Dengan perjanjian baru, menurut laporan IEEFA, impor dari AS melonjak lima kali lipat menjadi US$ 15 miliar per tahun.

“Komitmen ini mencakup hampir setengah dari total impor minyak dan gas Indonesia, yang secara signifikan memusatkan pembelian kepada AS. Risiko yang terkandung dalam klausul energi ART dapat membatasi fleksibilitas perencanaan energi negeri dan melemahkan keamanan energi jangka panjang serta ketahanan ekonomi Indonesia,” ujar Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition IEEFA, Mutya Yustika.

Dalam jangka pendek, pengalihan impor dari Timur Tengah ke Amerika Serikat berpotensi mengatasi risiko pasokan minyak yang dihadapi Indonesia. Namun, kesepakatan ART juga berpotensi menaikkan nilai impor minyak dari Amerika Serikat hingga lebih dari 12 kali lipat.

Perbandingan impor minyak dan gas Indonesia 2022–2025 serta komitmen Indonesia dalam ART.

“Pergeseran sumber impor tersebut mungkin dapat mengamankan pasokan minyak, tetapi tidak mengatasi dampak kenaikan biaya akibat pergerakan harga minyak di pasar global,” ungkap Mutya. 

Menurutnya, jika harga minyak terus naik akibat konflik yang berlarut dan volatilitas pasar, penjual minyak dari Amerika Serikat bisa jadi terdorong untuk mengalihkan kargo minyak ke pembeli yang memberikan penawaran lebih baik. Akibatnya, Indonesia terpapar risiko harga dan kompetisi pasokan minyak.

Pasalnya, minyak mentah asal AS relatif lebih mahal dibandingkan pemasok utama lain. Pada tahun 2025, harga rata-rata impor minyak mentah dari AS mencapai US$ 72,5 per barel, lebih tinggi dibandingkan dari Arab Saudi yang hanya US$ 69,9 per barel, maupun rata-rata keseluruhan biaya impor Indonesia sebesar US$ 70,6 per barel.

Selisih harga ini semakin membebani karena jarak pengiriman yang jauh dari AS ke Indonesia menambah ongkos logistik, asuransi, dan biaya transportasi. 

Indonesia seharusnya mempercepat penambahan energi terbarukan, yang akan memperkuat kemandirian energi dan mengurangi dampak fluktuasi pasar dalam denominasi dolar di pasar bahan bakar fosil global. Di sisi lain, Indonesia perlu memangkas impor BBM melalui perluasan pemanfaatan kendaraan listrik. Kapasitas domestik energi terbarukan dan rantai pasok kendaraan listrik yang kuat menjadi kunci ketahanan energi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *