Purwakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan struktur industri logam nasional. Targetnya adalah menopang pertumbuhan ekonomi dan mendukung agenda industrialisasi berkelanjutan. Kali ini ditandai dengan dilaksanakannya ground breaking fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 milik PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.
Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, mengatakan Kemenperin mengapresiasi Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas komitmennya memperkuat industri baja nasional melalui investasi berkelanjutan. Peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan fasilitas CGL 2 ini sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dalam memperkuat kemandirian industri dan mendukung hilirisasi.
“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” ujar Dodiet yang hadir mewakili Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Setia Diarta, pada acara Ground Breaking fasilitas CGL 2, Senin (26/1).
Kemenperin optimistis, pembangunan fasilitas CGL 2 akan memperkuat ekosistem hulu sampai hilir di industri baja nasional sehingga dapat meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, yang mendukung tumbuhnya perekonomian nasional. Melalui proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal.
Pada kesempatan yang sama, VP of Operations Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, mengatakan pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat industri antara (midstream) baja nasional. Industri antara ini memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir.
“Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” ungkap Stephanus.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa saat ini Tata Metal Lestari tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga telah mengekspor produk baja lapis (galvalume) ke 25 negara, termasuk ke Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki standar kualitas tinggi. Fasilitas baru tersebut akan memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun, yang akan melengkapi total produksi Tata Metal Lestari 500 ribu ton baja lapis per tahun yang sebelumnya telah diproduksi di CGL 1 Cikarang, Bekasi.
Dalam pengembangan fasilitas tersebut, Tata Metal Lestari menggandeng perusahaan teknologi Tenova dari Italia untuk memastikan penerapan teknologi terbaik yang efisien dan ramah lingkungan. Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission, melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi.
Selain memperkuat ketahanan industri nasional, kehadiran CGL 2 diharapkan memberikan multiplier effect bagi daerah, khususnya melalui penciptaan lapangan kerja baru serta penggerakan ekonomi lokal di Kabupaten Purwakarta dan Provinsi Jawa Barat.
Peran Strategis
“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangannya, Senin (26/1).
Kemenperin mencatat, dalam lima tahun terakhir, produksi baja nasional meningkat hampir 98,5 persen dibandingkan tahun 2019, yaang sebesar 8,5 juta ton. Hal ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif.
Guna memacu kinerja industri baja nasional, Kemenperin terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis. Antara lain penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri, pemberian insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau.
“Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” ujar Menperin.









Tinggalkan Balasan