Jakarta, Petrominer – Penjualan listrik PT PLN (Persero) mengalami penurunan di semua golongan pada semester I-2017. Hingga Agustus 2017, penjualan listrik tumbuh rendah yakni 2,8 persen.
Menurut Direktur Bisnis Maluku dan Papua PLN, Ahmad Rofiq, salah satu penyebabnya adalah rendahnya konsumsi listrik dari pelanggan golongan rumah tangga (R-1) 450 VA sampai (R-1) 1.300 VA. Pelanggan golongan ini mengalami penurunan 0,25 persen di semester I-2017 dibandingkan periode sama 2016.
“Penurunan konsumsi listrik untuk pelanggan rumah tangga terjadi lantaran karakteristik pelanggan dengan daya kurang dari 1.300 VA sensitif terhadap harga,” ujar Rofiq usai jumpa pers terkait Laporan Realisasi Pertumbuhan Penjualan Listrik, Volume Penjualan dan Bauran Energi Triwulan II Tahun 2017 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa (19/9).
Sejak awal tahun 2017, PLN mencabut sebagian besar penikmat subsidi 900 VA secara bertahap hingga Juli lalu. Akibatnya, tarif pelanggan rumah tangga mampu 900 VA mengalami kenaikan secara bertahap dari Rp 605 menjadi Rp 791 per kWh per 1 Januari 2017, Rp 1.034 per kWh mulai 1 Maret 2017, dan Rp 1.352 per kWh per 1 Mei 2017.
Kemudian, mulai 1 Juli 2017 lalu, pelanggan rumah tangga mampu 900 VA itu dikenakan penyesuaian tarif otomatis setiap bulan seperti 12 golongan tarif nonsubsidi lainnya.
Berdasarkan survei PLN dan PT Surveyor Indonesia terhadap 1.080 sampel pelanggan 450 VA, 900 VA hingga 1.300 VA, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelanggan listrik dengan daya dibawah 1.300 VA sensitif terhadap harga.
Lebih lanjut, Rofiq menjelaskan bahwa pelanggan rumah tangga R1-<1.300 VA kebanyakan menggunakan lampu hemat energi seperti LED. Sedangkan, untuk pelanggan rumah tangga dengan daya lebih dari 1.300 VA (R1>1.300 VA) (R-1 1.300 VA) tidak terlalu sensitif terhadap harga namun cenderung menerapkan green lifestyle.
Mereka umumnya menggunakan peralatan rumah tangga yang hemat energi, seperti LED dan fotovoltaik atap. Dengan fotovoltaik atap, pelanggan mengirim kWh-nya ke PLN sehingga berpotensi mengurangi konsumsi listrik yang dibangkitkan ke PLN per bulan.
“Jadi itu berpotensi setelah kami data mengurangi beban minimal per bulan sebesar Rp 59.371 per kWh untuk beban rumah tangga,” terang Rofiq.








Tinggalkan Balasan