Jakarta, Petrominer – Vietnam menghasilkan sebagian besar listriknya dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara dan gas, serta sejumlah besar pembangkit listrik tenaga air. Untuk mengurangi dampak perubahan iklim dari PLTU, Pemerintah Vietnam pun mulai beralih ke sumber energi terbarukan (EBT). Tenaga angin, tenaga surya, dan bioenergi memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Menurut GlobalData, kapasitas EBT kumulatif Vietnam diperkirakan mencapai 112,1 gigawatt (GW) pada tahun 2035, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 14,3 persen selama periode 2024-2035.
Dalam laporan terbarunya bertitel “Vietnam Power Market Outlook to 2035 – Market Trends, Regulations, and Competitive Landscape,” GlobalData mengungkapkan bahwa selama periode 2020-2024, pembangkitan EBT Vietnam meningkat dari 21,1 terrawatt hour (TWh) pada tahun 2020 menjadi 38,5 TWh di tahun 2024, dengan CAGR sebesar 16 persen. Sementara pada periode 2024-2035, diperkirakan meningkat lebih lanjut menjadi 179,6 TWh pada tahun 2035, dengan CAGR sebesar 15 persen.
“Pemerintah Vietnam telah mengumumkan feed-in tariff (FiT), revisi Rencana Pengembangan Energi 8, dan kebijakan lain untuk pengembangan energi terbarukan. Meskipun potensi tenaga air hampir sepenuhnya tereksploitasi, potensi ekspansi tenaga angin, tenaga surya, dan biomassa masih tinggi dan sebagian besar belum dimanfaatkan,” ujar Analis Energi Senior GlobalData, Attaurrahman Ojindaram Saibasan, Kamis (7/8).
Tenaga air, sebagai sumber utama pembangkit listrik, memiliki risiko tersendiri. Iklim Vietnam dipengaruhi oleh dua musim hujan setiap tahun. Ini artinya tingkat air yang menipis dapat secara drastis mengurangi tingkat pembangkitan dan memaksa ketergantungan pada PLTU batubara. Namun, peningkatan sumber daya PLTU dalam pembangkit listrik telah menjadi sumber kekhawatiran karena cadangan batubara Vietnam semakin menipis.
Hingga kini, Vietnam telah berjuang untuk mengembangkan industri energinya karena kurangnya dana negara. Menurut Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, pembangkit listrik tenaga air skala kecil (PLTM) masih dapat dikembangkan. Namun secara umum, potensi tenaga air telah hampir sepenuhnya dieksploitasi, sementara cadangan minyak dan gas menipis, dan negara tersebut baru-baru ini beralih dari negara net eksporter menjadi negara net importer batubara.
Pemerintah Vietnam telah merumuskan strategi pengembangan energi yang beragam melalui serangkaian rencana pengembangan energi nasional, dengan yang terbaru adalah Rencana Pembangunan Berkelanjutan (RPB) 8, yang berlangsung dari tahun 2023 hingga 2030. RPB 8 mengadvokasi portofolio energi yang terdiversifikasi yang mencakup gas alam, batu bara, hidroelektrik, tenaga surya, dan angin, dengan tujuan jangka panjang mencapai net zero emission pada tahun 2050.
“Proyek-proyek energi skala besar di Vietnam, terutama yang melibatkan energi terbarukan dan terminal LNG, membutuhkan investasi modal yang substansial. Namun, kendala pembiayaan yang terus-menerus muncul akibat ketidakpastian regulasi, tidak adanya perjanjian jual beli listrik (PPA) yang bankable, dan terbatasnya akses terhadap pembiayaan jangka panjang dengan suku bunga yang menguntungkan. Pemerintah berupaya mengatasi hal ini dengan menerapkan kebijakan yang menguntungkan bagi investor,” ujar Saibasan menyimpulkan.








Tinggalkan Balasan