,

Program Ketenagalistrikan Dengan Memberdayakan Masyarakat

Posted by

Jakarta, Petrominer — Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT PLN) meluncurkan Program Vokasi Ketenagalistrikan dan Inisiatif Listrik Kerakyatan dengan memberdayakan masyarakat. Model pembelajaran dan karya penelitian tersebut diresmikan dalam acara Karya Untuk Negeri di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (18/5).

Menurut Ketua STT PLN, Supriadi Legino, PT PLN (Persero) membutuhkan sekitar 700.000 tenaga operator dan teknisi untuk mengoperasikan dan memelihara sekitar 80.000 megawatt instalasi listrik yang akan dibangun sampai tahun 2025. Jumlah itu harus dipenuhi dengan cara mendidik masyarakat, dengan partisipasi kalangan akademis di seluruh Indonesia bekerjaama dengan Lembaga Sertifikasi Kompetensi.

“Kebutuhan tenaga teknik yang sangat besar tersebut disikapi STT PLN dengan membuka pendidikan dan latihan vokasi ketenagalistrikan bagi para lulusan SMU dan setara. Para siswa akan dilatih selama satu tahun sehingga layak mendapatkan sertifikasi kompetensi sesuai dengan amanat Undang-Undang Ketenagalistrikan No.30 Tahun 2009,” ujar Supriadi usai mengikuti rangkaian acara peresmian program tersebut.

Dia menyatakan, PLN membuka kesempatan bagi lulusan SMA dan sederajat dari seluruh Indonesia untuk mendaftarkan diri. Mahasiswa akan dibekali dengan pengalaman praktek yang cukup sehingga begitu lulus dapat langsung bekerja sebagai operator atau teknisi di perusahaan pembangkit listrik.

Terkait dengan listrik kerakyatan, karya kedua yang diluncurkan hari ini adalah Inisiatif Listrik Kerakyatan (LK) yang ramah lingkungan. Ini bisa menjadi alternatif untuk menjawab berbagai dilema pada sistim ketenagalistrikan saat ini.

Kelistrikan konvensional terpusat dan terinterkoneksi merupakan sistim yang efisien dan handal, namun mulai menghadapi persoalan dalam pembangunannya terutama mengenai pembebasan lahan dan pendanaan. Akibatnya banyak proyek pembangunan pembangkit dan transmisi yang terlambat dan mengakibatkan kerugian yang bisa menganulir keuntungan yang diperoleh dari sistim interkoneksi.

”Listrik Kerakyatan mengadopsi konsep distributed generation atau pembangkitan skala kecil yang tersebar dan dapat dibangun pada lahan kurang dari 1000 m2,” kata Supriadi.

Menurutnya, LK memiliki filosofi 1000×1 1×1000. Artinya membangun 1 unit 1000 MW oleh investor raksasa yang sarat dengan masalah, sama hasilnya dengan membangun pembangkit berkapasitas 1 MW yang lebih sederhana dan bisa dikerjakan lebih cepat secara gotong royong oleh 1.000 pengusaha lokal.

Supriadi yakin dengan berkembangnya LK, maka laju defisit energi listrik yang saat ini masih terjadi di Iuar Jawa bisa diperlambat. LK juga merupakan jawaban untuk penyediaan listrik daerah terisolir dan pulau-pulau terluar yang terlalu mahal biayanya apabila dibangun dengan sistim konvensional.

Energi Terbarukan

Listrik Kerakyatan menggunakan energi terbarukan yang ada di sekitar masyarakat, yaitu matahari, angin, biogas, dan biomasa sampah untuk perkotaan dan pohon Kaliandra merah untuk di pedesaan. Dengan demikian, LK bisa menghemat penggunaan sumber daya fosil dan mengurangi pemanasan global.

Program LK di perkotaan lebih diprioritaskan untuk pengembangan model TOSS (Tempat Olah Sampah Setempat), sehingga persoalan sampah bisa diselesaikan secara gotong royong. Selain itu, frekuensi truk pengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan banyak berkurang.

Kelayakan keuangan merupakan daya tarik bagi pengusaha lokal dan menjadi kunci keberlanjutan program LK. Untuk itu, Pemerintah harus bisa menjadi fasilitator agar para pengusaha lokal dan koperasi yang berminat membangun LK bisa mendapatkan pemasukan yang memadai dari penjualan energi dan kompensasi pengolahan sampah (tipping fee).

Opsi lainnya adalah menyalurkan sebagian dana bantuan sosial dan kredit murah untuk investasi LK bagi pengusaha kecil setempat yang ingin menjadi pengembang listrik kerakyatan.

Menurut kajian awal, biaya investasi spesifik untuk paket 2 ton sampah per hari adalah Rp 400 juta rupiah dan biaya operasinya sekitar Rp 90 juta setahun. Dengan pendapatan dari tipping fee yang sama dengan yang dikeluarkan Pemda selama ini dan dari penjualan energi listrik berdasarkan ketentuan pemerintah, maka paket tersebut bisa balik modal dalam waktu kurang dari 5 tahun.

Selain itu akan ada tambahan penghasilan dari penjualan sampah berharga dan pupuk. Tentunya dengan mekanisme insentif berupa bunga bank yang rendah, LK dapat menjadi peluang bisnis yang menarik dan terbuka luas bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *