, ,

Pemerintah Harus Bisa Stabilkan Harga BBM

Posted by

Jakarta, Petrominer – Kontribusi sektor migas relatif rendah terhadap deflasi (penurunan harga-harga), dari deflasi 0,09 Persen. Deflasi sebagian besar disebabkan andil tarif listrik yakni 0,14 persen; harga bawang merah 0,08 persen; harga daging ayam ras 0,05 persen; harga bbm bensin 0,04 persen; harga telur ayam ras dan andil cabai rawit 0,03 persen; serta tergantung pula dengan harga bayam, kol putih/kubis, tomat sayur, wortel, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan angkutan udara yang masing-masing 0,01 persen.

“Dengan demikian sangat direkomendasikan kepada Pemerintah untuk utamanya menurunkan Tarif Dasar Listrik (TDL), sejalan dengan menurunnya harga minyak dunia,” ujar Salamudin Daeng, Ketua Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Sabtu (19/3).

Namun sebaliknya kenaikan (naiknya) harga miyak atau naiknya harga jual bbm, memberi sumbangan relatif besar terhadap kenaikan harga harga (inflasi). Sebagai contoh, indeks harga konsumen meningkat dari 6,79 persen pada April, menjadi 7,15 persen pada Mei dikarenakan pemerintah menaikkan harga BBM. Dengan demikian direkomendasikan agar pemerintah menjaga stabilitas harga BBM dan tidak dipermainkan seperti YOYO.

Menurut Salamudin, untuk menjaga stabilitas harga BBM dapat dilakukan dengan dua cara yakni; memberikan subsidi melalui APBN dan membentuk dana stabilitasi yang dikelola oleh badan usaha yang bergerak di sektor energi. Sebenarnya konsumsi Rumah Tangga adalah Sebagai Penyumbang Terbesar Terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Sebagian besar PDB Indonesia dikontribusikan oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai 55,92 persen (tahun 2015). Sebagian besar konsumsi rumah tangga adalah dikontribusikan oleh konsumsi bahan pangan atau makanan.

“Sehingga pemerintah harus nya fokus dalam memperbaiki struktur harga pangan,” ujarnya.

Demikian pula sumbangan terhadap ekspor. Ekspor migas pada Januari 2016 mencapai US$ 1,11 miliar atau turun 14,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Ekspor migas hanya menyumbangkan 10,54 persen terhadap total ekspor. Sedangkan ekspor non migas mencapai 89,46 persen.

Sehingga direkomendasikan agar migas difokuskan kepada ekonomi nasional, kecukupan energi dalam negeri bagi industri, trasportasi dan rumah tangga. Indonesia tidak perlu memburu pasar ekspor, mengingat migas menyangkut hajat hidup orang banyak.

Sementara Impor migas Januari 2016 sebesar US$ 1,22 miliar, turun 32,10 persen disbanding Desember 2015 (US$ 1,80 miliar).Selama Januari–Desember 2015 impor migas mencapai US$ 24,61 miliar atau turun 43,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (US$ 43,46 miliar).

Sehingga untuk ini sangat direkomendasikan agar Pemerintah membuat kebijakan untuk memperkuat industri migas dalam negeri dengan dukungan penuh pemerintah, memperkuat BUMN migas dan integrasi diantara BUMN migas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *