Jakarta, Petrominer — PT PLN (Persero) baru saja menandatangani kontrak 16 proyek pembangunan pembangkit dan transmisi listrik senilai Rp 21,1 triliun. Proyek yang menjadi bagian dari porsi PLN dalam Program 35.000 megawatt (MW) ini akan merealisasikan pembangkit listrik dengan total kapasitas 1.825,5 MW dan jaringan transmisi 500 kilo Volt (kV) sepanjang 928 kilometer siskit (kms).
Penandatanganan 16 proyek pembangkit dan transmisi ini diharapkan menjadi sebuah awal yang baik bagi kesuksesan Program 35.000 MW. Pembangunan proyek pembangkit ini sendiri direncanakan rampung pada 2018. Dengan begitu, rencana Pemerintah untuk mewujudkan target rasio elektrifikasi sebesar 99% pada tahun 2019 diyakini dapat tercapai.
Dengan adanya 16 proyek baru itu, yang ditandatangani Jum’at (17/3), PLN mencatat kemajuan yang signifikan dalam menggarap proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik Program 35.000 MW. Porsi PLN sendiri dalam program ini adalah 10.233 MW. Nilai investasi yang dijanjikan dalam ke-16 proyek tersebut juga sangatlah tinggi.
Untuk proyek pembangkit, yang menggunakan skema EPC (Engineering Procurement, Construction), nilai investasi yang dijanjikan mencapai Rp 13 triliun. Nilai ini bisa lebih besar lagi jika nilai investasi untuk PLTD juga dimasukan.
Rencananya akan dibangun proyek pembangkitan dengan kapasitas 927,5 MW. Dengan rincian Proyek PLTGU Muara Tawar Blok 2,3 & 4 Add On Project, 650 MW, PLTMG Bangkanai (Peaker) Stage-2, 140 MW, MPP Paket 7 (Flores, Nabire, Ternate dan Bontang), total 100 MW dan PLTD tersebar Lot I dan Lot II, total 37,5 MW
Untuk pembangunan pembangkit ini, PLN juga telah menyerahkan enam Surat Penunjukan (LOI) proyek pembangkitan sebesar 898 MW. Proyek pembangkit itu di antaranya adalah PLTD tersebar Lot IV, total 328 MW, MPP Paket 3 (Merauke, Biak, Tj. Selor, Seram dan Langgur), total 90 MW, MPP Paket 4 (Maumere, Bima, dan Sumbawa), total 140 MW, 4. MPP Paket 5 (Bau-Bau, Ambon dan Jayapura), total 100 MW, PLTG/MG Riau Peaker, 200 MW, serta PLTMG Kupang Peaker, 40 MW
Daftar kontrak dan LOI pembangkit listrik yang ditandatangani, Jum’at (17/3).
Menurut Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, PLTGU Muara Tawar sangat strategis untuk memasok listrik ke pusat beban di Jakarta dan sekitarnya. PLTGU Muara Tawar add-on dibangun di lokasi eksisting, untuk melengkapi PLTG yang sudah ada sebelumnya. Dengan memanfaatkan gas buang dari PLTG, PLN dapat memperoleh tambahan kapasitas sebesar 650 MW tanpa adanya tambahan bahan bakar gas/BBM, sehingga efisiensi pembangkit akan meningkat.
PLN juga membangun PLTMG Bangkanai-2 (140 MW) sebagai tambahan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan listrik beban puncak sistem Barito. Dengan adanya pembangkit ini, total kapasitas PLTMG Bangkanai akan menjadi 295 MW. Sementara pembangkit-pembangkit peaker dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan listrik, khususnya pada saat beban puncak yang saat ini masih menggunakan BBM.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah tersebar dengan pembangkit yang efisien, PLN menggunakan MPP (Mobile Power Plant) paket 3, 4, 5 dan 7. Hal ini juga ditujukan untuk mendukung pemerataan akses listrik di wilayah Indonesia Timur. Pembangkit paket ini menggunakan bahan bakar duel fuel. Artinya, sebelum LNG (Liquid Natural Gas) tersedia, pembangkit bisa menggunakan BBM. Jika LNG sudah tersedia, maka dapat menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik di lokasi-lokasi tersebut.
“Penggunaan MPP dengan bahan bakar duel fuel sangat diperlukan karena manfaatnya sangat luas. Salah satunya, selain menjawab kebutuhan listrik, kita dapat mengurangi penggunaan pembangkit dengan bahan bakar minyak,” jelas Sofyan.
Sementara itu, pengadaan PLTD tersebar bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Hal ini sangat diperlukan, karena tidak ada alternatif lain yang sesuai kecuali PLTD berbahan bakar minyak.
Rencananya pada 2019, 90% pulau terluar berpenghuni sudah dialiri listrik PLN. Selain itu, 694 desa dan 137 kecamatan di pulau terluar, pulau terpencil dan perbatasan juga sudah berlistrik pada 2019.
Jaringan Transmisi
Selain pembangkit, PLN juga mengejar pembangunan Saluran Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV dan Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 kV di Jalur Utara Jawa. Nilai proyek pembangunan ini mencapai Rp 2,1 triliun. Selain itu, investor juga menjanjikan Long Term Service Agreement (LTSA) untuk 5 tahun senilai Rp 6 triliun.
Ada enam kontrak pengadaan pembangunan transmisi 500 kV jalur Utara Jawa, yakni SUTET 500 kV Tx (Ungaran Pedan) – Batang, SUTET 500 kV Batang – Mandirancan Seksi 1, SUTET 500 kV Batang – Mandirancan Seksi 2, GITET 500 kV Batang Ext, GITET 500 kV Indramayu, dan GITET 500 kV Cibatu Baru Ext
Pembangunan jaringan transmisi ini bertujuan untuk mengevakuasi daya dari PLTU Indramayu, (2×1.000 MW), PLTU Jawa 1 (1×1.000 MW), PLTU Jawa 3 (2×660 MW), PLTU Jawa Tengah (2×950 MW) dan PLTU Jawa 4 (2×1.000 MW).
Daftar kontrak pembangunan jaringan transmisi yang ditandatangani, Jum’at (17/3).
“Dengan adanya pembangunan jalur transmisi ini, maka PLN dapat menyalurkan daya listrik sebesar 8.820 MW kepada masyarakat. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” jelas Sofyan.
Tim Pengawal
Besarnya program 35.000 MW secara fisik dan keuangan menjadikannya rentan akan berbagai hal terkait hukum, seperti pembebasan tanah dan perijinan. Untuk itu diperlukan pengawalan dan pengamanan dari sisi hukum agar program 35.000 MW menjadi kuat dalam pelaksanaannya.
Di sinilah muncul peran dan kontribusi Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Pusat (TP4P). Peran TP4P sangat besar dan intensif dalam proses pengadaan di PLN dalam mengawal Program 35.000 MW, khususnya pengadaan GITET dan Transmisi 500 kV Jalur Utara Jawa.
Tim ini sangat intensif melakukan pendampingan, pengawalan, pengamanan dan bantuan hukum dalam proses lelang sejak penyiapan proses awal sampai penetapan pelelangan dan penyiapan kontrak. Tim ini juga telah menjadi mitra berdiskusi dan berupaya mencegah timbulnya penyimpangan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada TP4P yang telah membantu dan berkontribusi demi kelancaran pelaksanaan pengadaan dan proyek ini,” ungkap Sofyan.
Penandatanganan 16 proyek pembangkit dan jaringan transmisi PLN disaksikan oleh Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung, Adi Toegarisman. (Petrominer/Fachry)
Tinggalkan Balasan