PLN Produksi Green Hydrogen, Ini Reaksi BRIN dan Industri Otomotif

0
259
Petugas PLN Nusantara Power sedang melakukan pengecekan rutin koneksi dan pressure gas pada green hydrogen storage di Green Hydrogen Plant PLTGU Muara Karang, Pluit, Jakarta.

Jakarta, Petrominer – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan pelaku industri otomotif menyambut positif keberhasilan PT PLN (Persero) memproduksi green hydrogen. Apalagi, kini tengah dikembangkan kendaraan listrik berbasis bahan bakar hidrogen atau hydrogen fuel cell electric vehicle (FCEV).

PLN, melalui PLN Nusantara Power, resmi mengoperasikan Green Hydrogen Plant (GHP) pertama di Indonesia yang berlokasi di kawasan PLTGU Muara Karang, Pluit, Jakarta. Lewat fasilitas ini, PLN mampu memproduksi 51 ton green hydrogen per tahun.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN, Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, mengapresiasi langkah inovatif dari PLN tersebut. Pasalnya, kebutuhan hidrogen hijau di Indonesia hingga tahun 2060 akan terus tumbuh mencapai 32,8 juta ton per tahun.

“Ke depan, ekonomi kita akan tertopang bukan hanya dari minyak, tapi juga hidrogen. Karena hidrogen bisa dipakai di berbagai sektor, mulai dari sektor pembangkit listrik, industri terutama petrokimia, perumahan, hingga transportasi,” ungkap Prof. Eniya, Rabu (11/10).

Menurutnya, pengguna utama hidrogen akan diserap 80 persen di sektor transportasi. Apalagi, pada tahun 2030 mendatang, FCEV dapat diproduksi di dalam negeri.

Prof. Eniya menjelaskan BRIN telah membuat prototipe FCEV, yaitu mobil golf dengan mesin berbasis fuel cell dengan spesifikasi 2,5 kilowatt (kW) tipe polymer electrolyte membrane fuel cell (PEMFC) dan motor penggerak 48VDC/3,7 kW.

Hal senada juga disampaikan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) sebagai salah satu manufaktur kendaraan terbesar di Indonesia. Vice President Director TMMIN, Bob Azam, menilai hadirnya hidrogen hijau produksi dari PLN membangun optimisme pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia.

“Selamat kepada PLN yang telah menghadirkan Green Hydrogen Plant pertama di Indonesia. Ini dapat menjadi bagian penting dalam terciptanya ekosistem hidrogen di Indonesia untuk mengurangi emisi melalui beragam cara (multipathway), khususnya menghadirkan industri dan mobilitas rendah emisi,” ujar Bob Azam.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan GHP merupakan hasil inovasi yang terus dilakukan PLN dalam menjawab tantangan transisi energi. Salah satu kegunaan hidrogen adalah untuk bahan bakar transportasi.

Darmawan menyebutkan bahwa hidrogen hijau besutan PLN Nusantara Power ini diproduksi dengan menggunakan sumber dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terdapat di area PLTGU Muara Karang. Selain dihasilkan dari PLTS yang terpasang, hidrogen hijau ini juga berasal dari pembelian Renewable Energy Certificate (REC) yang berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang.

Dari total produksi hidrogen 51 ton per tahun, hanya 8 ton yang digunakan untuk keperluan operasional PLTGU Muara Karang. Sementara 43 ton sisanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Ke depan, PLN akan terus mengembangkan fasiltas green hydrogen di 15 pembangkit lain miliknya. Dengan potensi produksi hidrogen sekitar 222 ton per tahun.

Jika untuk kendaraan, menurut Darmawan, jumlah tersebut bisa menggerakkan sekitar 650 mobil yang menempuh jarak 100 km setiap hari selama 1 tahun.

“Jika saat ini emisi 10 kilometer kendaraan Bahan Bakar Minyak sebesar 2,4 kg CO2, maka dengan menggunakan green hydrogen yang emisinya 0, artinya bisa menghindarkan emisi hampir 6 ribu ton CO2e per tahun,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here