,

“Berjalan Sampai Ke Batas,“ Memoar Seorang Digulis

Posted by

Jakarta, Petrominer – Refrensi mengenai sejarah Boven Digul terus bertambah. Nama daerah yang berlokasi di Papua Selatan ini sangat akrab dan terukir dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh-tokoh pejuang Kemerdekaan Indonesia diasingkan ke Boven Digul untuk menjalani hukuman yang dijatuhkan Pemerintahan Hindia Belanda. Di antaranya adalah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Sayuti Melik.

“Tulisan  mengenai Boven Digul baru bermunculan setelah masa reformasi politik 1998, ketika kebebasan menulis dan akses terhadap informasi terbuka  lebar, dan ketika ijin terbit sudah tidak lagi menjadi halangan dalam mempublikasikan buah pikiran atau pendapat,” ungkap mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Triyono Wibowo, dalam bedah buku “Berjalan Sampai ke Batas, Kisah Nyata Pengalaman Seorang Digulis, yang diselenggarakan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya  UI, Selasa (21/3).

Namun, menurut Triyono, tulisan-tulisan itupun umumnya bukan dibuat oleh orang-orang mantan penghuni Digul (eks Digulis) sendiri, yang mengetahui dan memiliki pengalaman langsung di Kamp Konsentrasi Bovel Digul. Sebagian besar, tulisan itu dibuat oleh tangan kedua berdasarkan  cerita atau pengakuan dari Digulis atau sumber-sumber lain.

Buku “Berjalan Sampai ke Batas, Kisah Nyata Pengalaman Seorang Digulis,” ditulis langsung oleh Kadiroen Kromodiwirjo sebagai seorang Digulis. Buku ini menyajikan sebuah kisah dari tangan pertama bagaimana kehidupan dan suasana di Kamp Konsentrasi Boven Digul, baik di Kamp Konsentrasi Tanah Merah maupun Kamp Konsentrasi Tanah Tinggi.

“Buku ini diterbitkan dari manuskrip tulisan tangan Kadiroen Kromodiwirjo sebagai seorang Digulis. Penerbitan buku ini demikian bernilai, bukan saja karena melengkapi dokumentasi sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga membuka wawasan publik mengenai kamp konsentrasi Boven Digul dan segala bentuk kekejaman dan penindasan penjajahan Belanda di sana,” jelas Triyono yang juga cucu dari Kadiroen.

Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa rentang  waktu yang cukup lama (lebih dari 40 tahun)  antara peristiwa yang diceritakan dengan penulisannya menyebabkan kesaksian dan informasi yang disajikan tidak memuat detail tanggal dan bulan. Padahal, detail info seperti ini sangat diperlukan dalam  penulisan sejarah.

“Meski begitu,  informasi dalam buku ini benar berdasarkan  peristiwa nyata dan pengalaman langsung  yang dialami atau disaksikan sendiri oleh penulis. Kebenaran dan akurasinya  terkonfirmasi dari catatan atau tulisan-tulisan sejarah dari sumber-sumber lain, terutama dari penulis dan arsip Australia,” tegas pejabat karir di Kementerian Luar Negeri ini.

Buku ini memberikan informasi dan sekaligus membuka pengetahuan kita secara lebih lengkap tentang Kamp Konsentrasi Boven Digul;  sikap dan kondisi mental para deportados setelah berada di Boven Digul, komitmen dan konsistensi perjuangan mereka yang kemudian dilanjutkan dari Australia untuk Kemerdekaan Indonesia.

Dari buku ini  publik dapat memperoleh gambaran dan pemahaman lebih lengkap proses perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya menyangkut  perjuangan dan penderitaan kaum Digulis di  Kamp Konsentrasi Boven Digul, dan peran mereka dalam peristiwa pemogokan buruh pelabuhan Australia (Waterfront Workers Federation-WWF) terhadap kapal-kapal Belanda di Australia.

Konsumsi Publik

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Sejarah dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, menegaskan buku ini menarik untuk dibaca. Alasannya, buku ini ditulis oleh seorang masyarakat biasa.

“Kadiroen menulis kisah biografinya dengan kesadaran sendiri, tanpa ada permintaan dari pihak lain. Dengan menulis sendiri kisahnya, selain mewariskan nilai-nilai penting kepada keturunannya kelak, dia juga menyajikan fakta seperti sanggup hidup bertahan di dalam kamp pembuangan di masa lalu, yakni Digul yang masih berupa hutan belantara dengan masih tinggi kemungkinan terjangkit malaria atau meninggal karena dimakan binatang buas. Sehingga di masa kini, kisah tersebut diteladani, dengan sebaiknya tidak mudah berputus asa saat kita menghadapi kondisi yang cukup sulit,” ujar Susanto.

Dia menilai masyarakat Indonesia masih lemah dalam penulisan sejarah keluarga. Berbeda kondisinya dengan masyarakat di luar Indonesia, menceritakan kisahnya menjadi buku adalah hal yang biasa (lazim). Padahal, kisah keluarga menjadi sumber otentik dalam mentransmisikan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

Menurut Susanto, ada kendala dalam penulisan kisah sejarah keluarga. Yang pertama adalah kendala sikap Bangsa Indonesia yang terkesan sombong apabila bicara mengenai diri sendiri dan keluarganya. Apalagi, apa yang dikemukakan oleh Kadiroen lewat bukunya tersebut secara mikro berkisah tentang perjuangan diri dan keluarganya. Karenanya bisa saja ada pemikiran kisah tersebut ditujukan semata-mata untuk kepentingan keluarganya.

“Namun demikian di saat penutur kisah sudah berbicara secara kontekstual tentang sepenggal perjuangannya mencapai Indonesia Merdeka, maka berbagai peristiwa yang dialami oleh Kadiroen sudah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Itu sebabnya kisah Kadiroen ini layak menjadi bagian konsumsi publik masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Kedua, sebagai sumber utama, tidak semua orang mampu menuliskan kisahnya secara detil. Selama ini apabila menggali informasi, perlu bertanya langsung kepada pelaku sejarah, karena apabila tidak diungkapkan, maka fakta tersebut tidak muncul (tampak).

“Karenanya saya dapat sampaikan, belum ada yang bisa menulis seperti yang dilakukan oleh Kadiroen,” papar sejarawan ahli bidang maritim ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *