, ,

SKK Migas Apresiasi Penemuan di Sumur Eksplorasi Timpan-1

Posted by

Jakarta, Petrominer – Upaya SKK Migas mendorong penemuan cadangan minyak dan gas bumi baru di Indonesia kembali mendapatkan hasil positif. Kali ini, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Premier Oil Andaman Ltd. menemukan cadangan migas di blok Andaman II, 150 km lepas pantai Aceh.

Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara menyampaikan apresiasi kepada jajaran SKK Migas terkait dan Premier Oil atas kerja keras dan sinergi yang dilakukan. Penemuan ini bukan hanya kabar yang menggembirakan bagi Premier Oil, tetapi juga bagi industri hulu migas secara keseluruhan karena akan memberikan kontribusi bagi upaya pencapaian target tahun 2030 yaitu produksi minyak 1 juta BOPD dan gas 12 milliar kaki kubik per hari (BSCFD)

“Atas nama SKK Migas, kami memberikan apresiasi atas penemuan cadangan migas di Blok Andaman II yang dioperasikan oleh KKKS Premier Oil. Komitmen kita bersama untuk mendorong eksplorasi di tahun 2022 yang lebih masif dibandingkan tahun lalu telah membuahkan hasil yang positif,” ujar Benny, Senin (11/7).

Dia menegaskan, SKK Migas segera melakukan koordinasi dengan Premier Oil agar temuan tersebut dapat segera ditindaklanjuti dalam upaya mengkomersialisasikan. Dengan begitu, temuan tersebut akan berdampak positif bagi peningkatan produksi migas nasional.

“Momentum harga minyak dunia yang tinggi dan diprediksikan akan berlangsung dalam waktu lama akan membantu meningkatkan keekonomian dalam pengembangan proyek di hulu migas, sehingga kesempatan ini sudah seharusnya dapat ditindaklanjuti oleh Premier Oil dengan segera melakukan plan of development (POD) atas hasil penemuan tersebut”, ujar Benny.

Premier Oil merupakan anak usaha Harbour Energy, salah satu perusahaan migas dunia dari Inggris yang memiliki participating interest (PI) sebesar 40 persen sekaligus menjadi operator blok Adaman II. Mitra lainnya adalah bp (30 persen) dan Mubadala Petroleum (30 persen). Ini menunjukkan bahwa potensi hulu migas di Indonesia masih menarik bagi investor asing.

Penemuan tersebut diperoleh setelah Premier Oil menyelesaikan pengeboran sumur eksplorasi Timpan-1 pada kedalaman air 4.245 kaki. Sumur dibor secara vertikal total pada kedalaman 13.818 kaki di bawah laut.

Berdasarkan pengujian, sumur mengalirkan gas sebesar 27 juta kaki kubik perhari (MMSCFD) dan 1.884 barel kondensat per hari (BOPD). Operator blok Adaman II ini akan segera melakukan studi evaluasi post drill untuk menentukan langkah eksplorasi selanjutnya. Ini diperlukan dalam usaha mengkomersialisasikan penemuan tersebut yang berlokasi di lepas pantai cekungan Sumatera Utara.

Menurutnya, SKK Migas akan terus mendorong Premier Oil untuk melakukan pengeboran di struktur lain di blok Andaman II yang memiliki sejumlah struktur serupa.

“Setelah penemuan dari pengeboran sumur Timpan-1 yang dilakukan pada satu struktur, saya mendapatkan laporan Premier Oil akan fokus pada struktur-struktur di area barat yang memiliki play sama dengan yang discovery sekarang. Ini adalah kabar yang menggembirakan, dan optimis ke depannya akan ditemukan lagi cadangan migas di blok ini,” ujar Benny.

Kegiatan eksplorasi di offshore Aceh telah berakhir di tahun 2012 atau 10 tahun lalu. Premier Oil kembali melakukan eksplorasi setelah melihat potensi yang sangat baik di blok migas ini, dan memperoleh kabar baik dengan ditemukannya migas.

“Seiring dengan akan dimulainya pembahasan work, program & budget (WPnB) tahun 2023, maka SKK Migas akan mendorong Premier Oil untuk kembali melakukan investasi di blok ini, agar dapat ditemukan discovery di masa mendatang,” paparnya.

Blok Andaman dekat dengan infrastruktur migas yang ada, sehingga setiap penemuan di blok migas ini akan lebih cepat untuk dilakukan komersialisasi. Hal ini diharapkan ke depannya dapat menghidupkan kembali infrastruktur migas di Arun Aceh.

Premier Oil merupakan anak usaha Harbour Energy, salah satu perusahaan migas dunia dari Inggris yang memiliki participating interest sebesar 40 persen sekaligus menjadi operator blok Adaman II. Mitra lainnya adalah bp (30 persen) dan Mubadala Petroleum (30 persen). Ini menunjukkan bahwa potensi hulu migas di Indonesia masih menarik bagi investor asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *