Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) terus menjaga eksistensi dan membuktikan ketangguhannya. Bahkan di masa pandemi yang menyebabkan triple shock bagi kegiatan hulu migas.
Salah satu andalannya adalah rig fleet, yang teknologinya telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Apalagi, bagi industri hulu minyak dan gas bumi (migas), pengeboran merupakan inti produksi. Blok migas dengan potensi besar sekalipun cenderung akan sulit memproduksikan migasnya jika tidak didukung kegiatan pengeboran mumpuni.
Di usianya yang ke-13 tahun, PDSI telah menuntaskan ratusan kegiatan pengeboran dengan kategori sangat baik (operation excellence). Malahan, di kalangan industri hulu migas Indonesia, kinerja pengeboran yang optimal erat kaitannya dengan PDSI.
Menurut Direktur Utama PDSI, Rio Dasmanto, kinerja anak usaha Pertamina di bawah naungan Subholding Upstream ini tidak lepas dari kekuatan investasi rig dan peralatannya. PDSI memiliki 47 rig yang terdiri dari 45 rig darat dan 2 rig laut dari beberapa tipe, yaitu mechanical, electrical, cyber conventional, cyber skidding, dan cyber walking.
“Dari ke-47 rig PDSI tersebut, enam rig merupakan investasi PDSI tahun 2020/2021. Empat rig merupakan rig darat, dua rig laut,” jelas Rio.
Terkait rig laut, keduanya merupakan rig dengan tipe cyber. Pengembangan teknologi cyber di rig tersebut sepenuhnya dilakukan oleh perwira-perwira PDSI dan didesain khusus untuk kegiatan workovers di PHE OSES.
Selain tipe, kapasitas ke-47 rig inipun beragam sesuai dengan jenis jasa dan layanan PDSI, yakni mulai dari 250-750 HP (horse power), 1000 HP, 1500 HP, dan 2000 HP.
“Keandalan rig PDSI ini sudah kami buktikan di banyak kegiatan operasi pengeboran kami. Tidak hanya di pengeboran di captive market kami, tapi juga di luar itu. Contohnya di Exxon Mobil (EMCL) dan Vico Indonesia,” ungkanya.
Teknologi Cyber
Cyber conventional rig adalah rig yang dapat dioperasikan dan dikontrol dengan sistem yang terintegrasi satu sama lain. Pengoperasiannya sudah terkomputerisasi dengan teknologi layar sentuh (touch screen). Teknologi ini memungkinkan satu personil bisa mengontrol seluruh peralatan di anjungan rig hanya dengan memerhatikan satu monitor.
Setingkat lebih canggih dari cyber conventional rig, PDSI memiliki cyber skidding rig. Selain memiliki teknologi yang sama dengan cyber conventional rig, cyber skidding masih dilengkapi dengan kemampuan perpindahan dua arah. Dengan teknologi skidding ini, proses perpindahan menara, substruktur, berikut peralatan rig, dari satu sumur ke sumur lain dalam satu cluster dapat berlangsung lebih aman dan lebih cepat.
Terakhir, cyber walking rig. Perbedaannya dengan cyber skidding rig, rig dengan teknologi paling baru di PDSI ini memiliki kemampuan perpindahan hingga delapan arah.
Rig dengan teknologi cyber, skidding, dan walking system mampu mengoptimalkan kinerja operasi pengeboran dan menciptakan efisiensi signifikan, terutama terkait dengan fuel consumption dan moving time. Khusus walking system rig, yang cocok untuk batch drilling, bahkan mampu menciptakan efisiensi atau menghemat waktu hingga 30 persen dari jadwal operasional.
Blok Rokan
Terkait peluang usaha di blok Rokan, menurut Rio, dengan teknologi tepat guna berikut kompetensi dan kapabilitasnya, PDSI yakin dapat menunjukkan performa yang sangat baik, sehingga pantas menjadi preffered partner untuk PHR.
PDSI terus berkomitmen untuk berinvestasi baik Land Rig (empat unit) maupun Offshore Rig (dua unit). Dari empat Land Rig tersebut, tiga rig ditujukan untuk mendukung operasi pengeboran di blok Rokan di Riau dan satu rig untuk Region 4 Subholding Upstream.
“Keempat land rig hasil investasi tahun 2020/2021 ini berkapasitas 550 HP, tipe mobile dengan mechanical system dan telescopic mast,” jelasnya.
Asset Management Manager PDSI, yang juga PM Tim Persiapan Proyek Pertamina Hulu Rokan, Wisnu Adi Nugroho, menjelaskan bahwa berdasarkan kebutuhan customer untuk pengeboran sumur dangkal (shallow well) yang rata-rata kedalamannya di bawah 1.500 meter (4.500 feet), maka rig yang sesuai dengan permintaan tersebut adalah kapasitas 550 HP.
Kemudian, sesuai dengan kondisi well pad dan program pengeborannya, blok Rokan membutuhkan rig bertipe mobile. Dengan demikian, harapannya rig bisa masuk ke dalam kondisi well pad yang relatif compact.
Dengan menggunakan tipe mobile rig, proses pindah antar sumur juga bisa berlangsung cepat. Ini sesuai dengan karakteristik blok Rokan yang durasi pekerjaannya lebih cepat dan nantinya lebih banyak proses pindah antar sumur.
“Kelebihan lain rig terbaru PDSI ini adalah bisa melakukan pekerjaan sumur mulai dari drilling sampai completion. Rig ini juga dilengkapi dengan fasilitas porta camp yang mampu menampung semua personel rig jika harus melakukan pengeboran di remote area,” papar Wisnu.
Hebatnya, keenam unit Rig 550 HP itu semuanya difabrikasi di Indonesia sehingga mendukung kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).








Tinggalkan Balasan