, ,

Menuju 1 Juta Barel, Awal Kebangkitan Hulu Migas Indonesia

Posted by

Jakarta, Petrominer – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih memegang peran penting sebagai penggerak perekonomian nasional. Sayangnya, produksi dari wilayah kerja yang ada saat ini menurun karena lapangan yang relatif tua. Sementara usaha peningkatan produksi mendapat tantangan lebih kuat ketika terjadi pandemi Covid-19 dan berkembang pesatnya industri energi alternatif.

Bagi Indonesia, kondisi ini cukup memprihatinkan. Pasalnya, migas masih berkontribusi sebesar 54 persen dari total bauran energi tahun 2019. Migas juga masih akan mendapat porsi 44 persen dari bauran energi tahun 2050. Untuk itu, perlu peningkatan produksi migas yang masif demi mendukung keberlanjutan sumber energi tersebut.

Dalam rangka menghadapi tantangan dan kebutuhan tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah mencanangkan target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030, sebagai tanda kebangkitan industri hulu migas Indonesia. Jika target itu tercapai, akan menjadi puncak produksi baru bagi Indoesia. Karena produksi saat itu akan setara dengan 3,2 juta barel per hari. Namun untuk mencapai target tersebut dibutuhkan perubahan mindset dan kemauan untuk keluar dari zona nyaman dengan melakukan upaya-upaya “Not Business As Usual”.

Gayung pun bersambut. Target produksi yang diinisiasi SKK Migas ini mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Dalam kegiatan 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG 2020) yang diadakan 2-4 Desember 2020 seara virtual, semua pemangku kepentingan yang terlibat, antara lain Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perindustrian, SKK Migas, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), dan Indonesian Petroleum Association (IPA), telah menyampaikan aspirasinya dan mendiskusikan hal yang dapat mendukung pencapaian target tersebut.

Apalagi, semua pihak menyadari pencapaian target tersebut dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang baik. Salah satunya dapat menekan defisit perdagangan migas. Apalagi, dalam dua tahun terakhir, besarnya impor migas disebut menjadi beban dalam neraca perdagangan dan turut memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan Pemerintah sadar betul industri hulu migas memegang peranan strategis untuk mendukung program pertumbuhan ekonomi. Bukan hanya sebagai sumber penerimaan, tetapi juga sebagai lokomotif pergerakan perekonomian.

“Industri migas setiap tahun berinvestasi sebesar US$ 10 miliar dengan faktor multiplier effect yang bisa mencapai 1,6 kali dengan penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi. Sebagai sumber energi dan bahan baku, industri migas memegang peranan penting dalam mendukung pengembangan industri di Indonesia,” ungkap Airlangga.

Sementara Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menyebutkan bahwa untuk mendukung kenaikan produksi, Pemerintah telah membuat beberapa kebijakan. Diantaranya adalah penurunan harga gas untuk mendorong tumbuhnya industri, pelonggaran perpajakan, dan fleksibilitas sistem fiskal untuk meningkatkan data tarik investasi migas serta meningkatkan keekonomian pengembangan lapangan.

Menurut Arifin, Kementerian ESDM juga telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi ketidakpastian dalam investasi usaha hulu migas dengan penyederhanaan perizinan, penyediaan dan keterbukaan data, dan integrasi hulu-hilir serta stimulus fiskal. Malahan, Pemerintah juga akan memberi stimulus fiskal untuk mendorong pengembangan lapangan migas.

“Pemerintah tidak lagi mengedepankan besarnya bagi hasil untuk negara, tetapi lebih diarahkan mendorong agar proyek migas dapat berjalan melalui pemberian insentif bagi beberapa Plan of Development (POD) yang selama ini dinilai tidak ekonomis oleh kontraktor,” ujarnya, sembari menjelaskan meskipun secara persentase bauran energi migas di masa depan diperkirakan menurun namun secara nominal justru akan meningkat.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, pun sepakat bahwa industri hulu migas ke depan akan tetap memainkan peran strategis meskipun Pemerintah giat mengembangkan energi terbarukan. Menurutnya, Indonesia masih terus mengalami penurunan produksi migas, sementara di saat yang sama, permintaan dan kebutuhan energi terus meningkat. Permintaan akan meningkat ketika ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi.

“Kami bertujuan untuk mencapai ekonomi negara berpenghasilan tinggi. Artinya, kebutuhan energi akan terus meningkat. Itulah mengapa memiliki produksi minyak dan gas serta sumber energi lainnya menjadi sangat penting,” tegas Sri Mulyani.

Cadangan Migas

Potensi peningkatan produksi masih besar. Pasalnya, dari 128 cekungan yang ada di Indonesia, baru 20 cekungan yang diproduksi dan 68 cekungan yang belum dieksplorasi. Para investor juga sudah menyatakan minatnya untuk meningkatkan investasi di Indonesia jika mendapatkan insentif dan stimulus yang tepat.

Tenaga Ahli Komite Pengawas SKK Migas, Nanang Abdul Manaf, mengatakan Indonesia bisa bercermin dari success story di Mesir dan Kolombia dalam memperbaiki investasi hulu migas dan meningkatkan cadangan dan produksi dalam waktu singkat.

Nanang menjelaskan, Mesir pada tahun 2015 hingga 2017 melakukan eksplorasi secara masif demi penyediaan data 3D. Upaya tersebut menggandeng lembaga geosains dunia. Hasilnya data yang ditawarkan Mesir diminati banyak investor yang tertarik.

“Hasil dari proses tersebut adalah penemuan giant field mencapai 40 trillion cubic feet (tcf) gas dan telah mulai produksi. Mereka cepat melakukan reformasi dan survei 3D dengan masif lalu penemuan dan produksi. Proses efisien dan efektif ini yang ditunggu, investor butuh kecepatan,” paparnya.

Sementara di Kolombia, investor menjadi target pemerintah. Meski Pemerintah Kolombia tidak memberlakukan special tax bagi para investor namun ada fleksibilitas perpajakan. Seperti pertimbangan variabel harga minyak serta kondisi geologi cadangan. Dalam kondisi harga minyak yang turun seperti saat ini, investor dapat tetap menjalankan bisnis dan investasi.

Lebih lanjut, Nanag menegaskan bahwa Mesir dan Kolombia menghargai kesucian kontrak. Karena itulah, tidak ada perubahan pasca kontrak diresmikan hingga selesai kontrak 30 tahun mendatang.

Dorongan para KKKS untuk menggeliatkan kembali kegiatan eksplorasi dan produksi migas sangat penting. Dengan adanya dorongan ini menunjukkan adanya semangat yang sama untuk memastikan bahwa industri migas Indonesia bisa bertahan di tengah ketidakpastian harga minyak dunia dan pandemi Covid-19.

Penerapan teknologi juga jadi salah satu poin penting di sektor hulu migas sehingga bisa lepas dari ketergantungan terhadap harga minyak dunia. Semakin baru teknologi yang digunakan akan menghasilkan efisiensi, yang membuat keekonomian menjadi semakin baik. Teknologi terbaru tentu akan mendukung eksplorasi migas Indonesia mulai dari teknologi dan alat pendukung pengeboran hingga metode produksi minyak lanjutan atau Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi lapangan migas existing.

Bersama seluruh kementerian dan pemangku kepentingan lainnya, SKK Migas mengajak seluruh elemen untuk dapat berperan aktif dalam usaha peningkatan produksi migas Nasional dengan melakukan perubahan paradigma demi industri hulu migas Indonesia yang semakin bermanfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pada akhirnya, kebangkitan industri hulu migas ini akan kembali menggeliat dan mencetak sejarah baru karena semua pihak ikut berpartisipasi mewujudkan visi bersama, yakni target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada tahun 2030.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *