Serpong, Petrominer – Sosialisasi penggunaan kompor listrik induksi terus dilakukan. Beragam acara dan kegiatan dimanfaatkan untuk menarik minat warga mengganti kompor gas ke kompor listrik induksi.
Seperti yang dilakukan Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) di arena kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-34 di ICE, BSD. Sebagai bagian dari kegiatan Pangan Nusantara (Pangan Nusa) 2019, PPJI menggelar Electric PPJI Food Festival, Minggu (20/10).
Uniknya, lomba masak kali ini diikuti oleh warga asing, dengan mengusung tema Embassy Cooking Competition Indonesian Cuisine. Dalam lomba tersebut, para peserta diberi waktu selama 60 menit untuk memasak “Nasi Goreng Indonesia.” Diikuti tiga peserta dari Kedubes Malaysia, Kedubes Rusia, dan Kedubes Inggris yang ada di Jakarta.
Menurut Ketua Umum APJI, Irwan Iden Gobel, lomba masak ini digelar dengan tujuan membangun persahaabatan di antara Indonesia dan sejumlah negara lainnya dalam kerangka (format) kuliner.
Komisioner (Konselor) Dagang Malaysia External Trade Development Corporation (Matrade), Har Man Ahmad, menyatakan sangat mendukung penggunaan kompor listrik (induksi) pada acara kompetisi memasak tersebut. Apalagi, dia mengaku sudah menggunakan kompor listrik sebagai cadangan kompor gas di rumah.
“Jadi kalau satu saat kehabisan gas, bisa menggunakan kompor listrik untuk memasak,” jelasnya usai penyerahan hadiah kepada para pemenang pada lomba masak yang digelar di Hall 10 Arena TEI Indonesia.
Begitu juga di Malaysia, tegas Ahmad, sudah lebih banyak warga yang menggunakan kompor listrik induksi dibandingkan kompor gas.
Peserta lainnya, Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Nikita Ivanov, menyatakan juga mendukung penggunaan kompor listrik induksi. Namun, karena di perumahan Kedubes Rusia yang tersedia baru kompor gas, Nikita menyatakan akan mendukung bila diharuskan berpindah menggunakan kompor listrik.
“Apalagi saat ini sebagian besar penduduk di Rusia juga sudah banyak yang menggunakan kompor listrik induksi. Namun demikian masih banyak juga yang menggunakan kompor gas,” katanya.
Penyuka nasi goreng dan gado-gado yang sudah 11 tahun tinggal di Indonesia ini juga mengatakan secara khusus membawa bumbu khusus dari Rusia dalam lomba masak tersebut.
“Bagus sekali bagi lombanya adalah memasak nasi goreng. Apalagi, saya kerap memasak untuk keluarga di rumah,” tutur Nikita yang akhirnya tampil sebagai pemenang lomba masak tersebut.
Ramah Lingkungan
Peserta lainnya, Christopher (Chris) Agass, tim ekonomi kantor Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, mengemukakan bahwa penggunaan kompor induksi listrik lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan kompor gas. Namun penggunaan kompor listrik lebih lama waktu memasaknya dibandingkan menggunakan kompor gas. Begitu juga dalam hal harga, berbeda jauh dibandingkan kompor gas.
Chris, yang baru 4 bulan berada di Indonesia, menganggap lomba masak nasi goreng sebagai ide bagus, karena melibatkan keterkaitan antara negara yang berbeda. Dampaknya dirasakan cukup positif dalam mendukung kerjasama perdagangan internasional.
“Saya suka memasak jika ada waktu luang. Memasak dilakukan untuk menghilangkan stress akibat tekanan pekerjaan,” jelasnya.









Tinggalkan Balasan