Pasuruan, Petrominer – Pemerintah terus berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan dalam Proyek 35.000 megawatt (MW). Tambahan daya sebesar 450 MW mulai mengalir dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Grati Blok III yang berlokasi di Desa Wates, Pasuruan, Jawa Timur.
PLTGU Grati Blok III ini terdiri dari dua gas turbine yang dirancang untuk single firing menggunakan bahan bakar gas dan CNG (Compressed Natural Gas) dan satu steam turbine (combined cycle) dengan sistem pendingin menggunakan air laut.
Pembangkit listrik bagian dari Proyek 35.000 MW ini diresmikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, Jum’at (26/7). Peresmian ditandai dengan penekanan tombol sirene oleh Jonan bersama Direktur Jenderal Ketenagalistrikan ESDM Rida Mulyana, Plt Direktur Utama PT PLN (Persero) Djoko Abumanan, dan Wakil Bupati Pasuruan Gus K.H Mujib Imron.
Proyek yang dibangun sejak Juli 2016 ini akhirnya dapat diresmikan dengan adanya sinergi antara instansi terkait, serta dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Proyek ini selesai lebih cepat enam bulan dari standar waktu penyelesaian proyek PLTGU (36 bulan). Sedangkan daya outputnya tercapai lebih besar dari target kontrak sebesar 503 MW.
Peresmian PLTGU Grati ini merupakan wujud nyata dari percepatan program pemerintah dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, melalui megaproyek 35.000 MW. PLTGU Grati Blok III ini akan meningkatkan kapasitas penyediaan listrik untuk Pulau Jawa – Bali, khususnya Surabaya Selatan, Paiton dan Krian. Evakuasi daya yang dihasilkan oleh pembangkit listrik ini disalurkan melalui jaringan 500 kV masuk ke dalam Interkoneksi Jawa Bali.

Model Pembiayaan
Dalam sambutannya, Jonan mengapresiasi konsep pembuatan proyek PLTGU Grati blok III berkapasitas 450 MW tersebut. Pembangunan PLTGU ini didanai oleh APBN, dana PLN, dan swasta. Model pembiayaan ini justru membuat efisien.
“Ibarat merakit prakarya, konsep pembangunan ini membuat biayanya sangat murah, dengan biaya rendah, tentu harga juga dapat ditekan, terimakasih PLN telah melakukan efisiensi sesuai dengan pesan Presiden RI,” tegasnya.
Menurut Jonan, model pembiayaan tersebut semestinya dijadikan patokan dalam pembangunan tenaga listrik. Apalagi, ini sesuai arahan Presiden Jokowi terkait peningkatan efisiensi di semua sektor.
“Ini bisa jadi standar pembangunan PLTGU atau pembangkit lain yang bisa efisien. Kalau pembangkitnya efisien, minimal tarif listrik tidak naik. Bapak Presiden selalu mengingatkan efisiensi tetap ditingkatkan,” paparnya..
Jonan juga mengapresiasi penggunaan tenaga kerja lokal yang masif di proyek PLTGU Grati ini. Proyek dengan nilai investasi sebesar Rp 3,61 trilyun ini menyerap sebanyak 2728 tenaga lokal dan 35 tenaga asing pada masa konstruksi.
Sebelumnya, Rida memaparkan bahwa saat beroperasi PLTGU Grati ini didesain lebih efisien dan ramah lingkungan. Hal ini didukung dengan sistem pembakaraan Dry Low NOx Combuster di PLTGU sehingga mengasilkan emisi sehingga menghasilkan emisi gas buang pembangkit NOx ramah lingkungan (51 mg/m3) daripada Pembangkit Listrik Diesel menghasilkan gas buang pembangkit rata – rata NOx (400 mg/m3).
“PLTGU punya emisi jauh lebih rendah dibandingkan PLT Diesel,” ungkapnya.
PLTGU Grati Blok III merupakan PLTGU peaker ekstensi yang terdiri dari 2 Gas Turbine dan 1 Steam Turbine (Combined Cycle) dengan kapasitas 450 MW. Gas buang dari Turbin Gas akan digunakan untuk menghasilkan uap untuk Steam Turbine melalui unit HRSG (Heat Recovery Unit Steam Generator). Sistem pendingin untuk kondensor Steam Turbine menggunakan air laut.









Tinggalkan Balasan