Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan

Jakarta, Petrominer – Upaya Pemerintah dan PT PLN (Persero) untuk menekan tarif listrik mulai terlihat. Selama tiga tahun terakhir, Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik Total (BPP) mengalami penurunan signifikan.

Tahun 2014, BPP tercatat sebesar Rp 1.420 per kWh, tahun 2015 turun menjadi Rp 1.300 per kWh, dan tahun 2016 turun kembali ke angka Rp 1.265 per kWh. Namun, data per September 2017, BPP naik sedikit menjadi Rp 1.299 per kWh. Ini terjadi seiring dengan kenaikan harga energi primer yang juga signifikan.

Meskipun begitu, sejak Januari 2017 hingga saat ini, tarif listrik non-subsidi yang sebesar Rp 1.467 per kWh mengalami penurunan Rp 5 per kWh, dibandingkan tarif sebelumnya (Desember 2016) yaitu Rp 1.472 per kWh.

Kondisi ini sejalan dengan arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan kepada PLN agar melakukan efisiensi untuk menurunkan BPP Tenaga Listrik, sebagai upaya mewujudkan harga listrik yang terjangkau bagi masyarakat. Ini juga memperlihatkan bahwa Pemerintah sangat serius sekali supaya harga listrik terjangkau.

“Perasaan keadilan sosial oleh rakyat Indonesia harus jalan. Saya terapkan selama saya di sini. Ini yang menurut saya sangat penting,” ujar Jonan beberapa waktu lalu.

Menteri ESDM juga telah menugaskan PLN untuk terus melakukan efisiensi energi. Ini sudah menjadi komitmen besar dari PLN untuk melakukan efisiensi, sehingga kalau biaya produksi berubah-berubah masih bisa ditangani.

“Sebenarnya yang fluktuatif itu energi primer, seperti batubara, minyak, dan gas. Gas sudah kita atur dan sudah buat regulasi di mana harganya itu bisa dijangkau,” jelas Jonan.

Selain upaya efisiensi, turunnya BPP tersebut juga merupakan hasil dari rasionalisasi bauran energi primer pembangkit. Pemerintah telah menurunkan porsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang pada tahun 2012 sebesar 15 persen menjadi hanya 7 persen di tahun 2017. Tidak hanya itu porsi batubara juga dioptimalkan menjadi sekitar 55 persen, disusul gas 26 persen dan energi baru terbarukan (EBT) sekitar 12 persen. Sebagaimana diketahui, energi primer pembangkit listrik mulai yang termahal adalah BBM, mayoritas EBT, gas, batubara dan air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here